Menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, ongkos produksi listrik Inalum selama ini hanya sebesar 1 sen. Sementara harga jual listriknya ke PLN sebesar 9 sen.
Dengan demikian, Inalum punya keuntungan sebesar 8 sen tiap kwh listrik yang dijual ke PLN untuk disalurkan ke warga Sumut. Dengan komitmen menyalurkan hingga 210 megawatt (MW), maka Inalum punya potensi pendapatan hingga Rp 2 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rini memastikan operasional BUMN yang sahamnya baru direbut dari Jepang itu tidak akan terganggu dengan penjualan listrik ini. Pasalnya, kebutuhan listrik Inalum 440 MW untuk memproduksi alumunium masih terpenuhi.
"Kalau dilihat dari biaya, Inalum itu sangat murah. Total yang Inalum gunakan adalah 440 mw untuk memproduksi 265.000 ton alumunium. Maka saya mengatakan, sudahlah karena harganya sangat murah dan kalau menghasilkan 265.000 alumunium, untungnya Inalum US$ 140 juta," kata Rini.
Rini mengatakan, awalnya PLN berniat membeli seluruh listrik Inalum. Namun Rini menolak permintaan tersebut karena Inalum juga harus tetap berbisnis dan memproduksi alumunium.
"Tadinya PLN mau (beli listrik) semuanya saja, dan saya bilang jangan. Karena industri ini juga perlu dipertahankan, dan kita mengharapkan pekerja tidak ada yang diberhentikan. Pekerja tetap ada di sana sambil mempersiapkan industri hilirnya. karena toh keuntungannya besar," ujarnya.
"Dari jual listrik saja US$ 160 juta ditambah lagi membuat alumunium, masih tetap untung," katanya.
(ang/ang)











































