Pemeriksaan yang dilakukan tim dokter dari RSU Kota Minamisoma, sesaat setelah terjadi kebocoran nuklir Fukushima pada 2011, menunjukkan bahwa paparan radiasi yang dialami warga umumnya kurang dari 1 milisievert (mSv). Dosis 1 mSv merupakan ambang paparan radasi yang menurut International Commission on Radiological Protection (ICRP) belum memberikan dampak kesehatan yang signifikan.
"Tidak seorang pun (di Minamisoma City) meninggal karena efek radiasi akut," kata Prof Ryugo Hayano dari Tokyo University yang mempublikasikan temuan tersebut di Journal of Radiological Protection, ditemui detikFinance di Minamisoma City baru-baru ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang tua yang memiliki anak kecil, bagaimana pun paling khawatir terhadap paparan radiasi internal yang masuk melalui air dan makanan. Sampai-sampai, Prof. Hayano harus menciptakan alat pemindai khusus untuk anak yang ia namakan Babyscan.
Dari 1.000 anak yang dipindai, tidak satu pun menunjukkan adanya paparan material radioaktif cessium-137, yang merupakan produk fisi dari reaktor Daiichi Fukushima. Prof. Hayano menyimpulkan, Babyscan sebenarnya tidak dibutuhkan untuk tujuan radioproteksi, namun pada akhirnya sangat penting untuk menjalin komunikasi dengan para orang tua.
"Memang butuh waktu dan usaha untuk mendapatkan kembali kepercayaan warga," kata Prof. Hayano.
Survei internasional yang dilakukan Asahi Shimbun pada Mei 2011 menunjukkan, kecelakaan di reaktor Daiichi Fukushima sangat mempengaruhi dukungan warga terhadap pemanfaatan nuklir. Khususnya di Jepang, 73% warga menolak pembangunan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) baru.
(up/dnl)











































