"Kita masih mengkaji, karena nilai investasinya sangat tinggi. Kemudian nilai ekonomisnya juga bagaimana," ujar Presiden Direktur Freeport Indonesia, Rozik B Soetjipto saat ditemui di Tembagapura, Timika, Papua, Jumat (14/11/2014).
Rozik menjelaskan, untuk membuat smelter dibutuhkan tenaga listrik yang besar, yakni 150 megawatt. Sementara itu di Papua saat ini saja masih kekurangan tenaga listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, Rozik meminta agar pemerintah mau memperpanjang waktu yang diberikan agar Freeport bisa membangun smelter. Menurutnya, waktu 2,5 tahun yang tersisa tak akan cukup.
"Kalau bisa, waktu yang diberikan kepada kami untuk membangun smelter jangan hanya 2,5 tahun. Smelter bisa dibangun di Papua bersamaan dengan pembangunan pabrik semen dan pembangkit listrik yang baru. Itu kan butuh waktu," tutur Rozik.
Selama ini, 40% hasil tambang mentah PT Freeport diolah di smelter milik Petrokimia Gresik. Sisanya sebesar 60% diekspor dalam bentuk mentah ke berbagai negara seperti Filipina, India, Tiongkok, Jepang dan Spanyol.
(kha/ang)











































