Pemerintah Naikkan Harga BBM, BI Gelar Rapat Dewan Gubernur

Pemerintah Naikkan Harga BBM, BI Gelar Rapat Dewan Gubernur

- detikFinance
Selasa, 18 Nov 2014 10:30 WIB
Pemerintah Naikkan Harga BBM, BI Gelar Rapat Dewan Gubernur
Jakarta - Pemerintah sudah resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Kebijakan ini tentunya akan berpengaruh besar terhadap perekonomian nasional.

Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) hari ini mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG). Demikian diungkapkan Tirta Segara, Direktur eksekutif Departemen Komunikasi BI, Selasa (18/11/2014).

"Ya, BI akan menyelenggarakan RDG pada hari ini," ujar Tirta kepada detikFinance.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam RDG sebelumnya pekan lalu, BI memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 7,5%. David Sumual, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), menilai BI belu perlu mengubah BI Rate.

Menurutnya, kenaikan harga BBM sebesar Rp 2.000/liter cukup moderat. Dia memperkirakan tambahan inflasi tidak terlalu tinggi hingga sampai 2 digit.

"Karena kenaikannya moderat, inflasinya juga moderat. Saya perkirakan inflasi pada akhir tahun di kisaran 7,5%," tuturnya.

Percepatan laju inflasi, tambah David, sebenarnya tidak perlu direspons dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate. BI Rate yang saat ini sebesar 7,5% masih cukup memadai.

"Dengan inflasi yang diperkirakan 7,5%, maka real interest rate menjadi nol. Sebenarnya BI cukup me-manage inflasi agar tidak naik lebih tinggi lagi. Jadi bisa saja tidak menaikkan BI Rate," jelasnya.

Namun, David memperkirakan masih ada peluang kenaikan BI Rate meski tidak terlalu besar. Bulan depan, BI Rate bisa dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 7,75%.

"Kenaikan itu hanya memberi pesan bahwa BI tetap menjaga inflasi. Tapi kenaikan ini tergantung bagaimana perkembangan di Amerika, terkait kebijakan moneter The Fed (The Federal Reserves, bank sentral Amerika Serikat)," paparnya.

David berharap, Indonesia bisa segera menyelesaikan reformasi struktural pada semester I-2015. Kenaikan harga BBM bisa menjadi kunci reformasi itu, karena mendorong penurunan defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan. Ketika defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan bisa ditekan, maka nilai tukar rupiah bisa lebih stabil.

"Harapan kita adalah reformasi struktural bisa selesai semester I-2014. Sehingga ketika The Fed menaikkan suku bunga yang diperkirakan pada semester II-2014, kita sudah siap," katanya.

(hds/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads