Harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) saat ini memang menurun, menjadi sekitar US$ 80 per barel. Bila dihitung dengan dolar Rp 12.000, harga premium tanpa subsidi memang Rp 8.600/liter. Tapi bukan ini yang jadi dasar perhitungan pemerintah.
Pemerintah menghitung anggaran subsidi dengan menggunakan rata-rata ICP dan nilai tukar dari awal tahun. Dari awal tahun hingga sekarang, harga rata-rata bensin premium tanpa subsidi, atau harga keekonomian adalah Rp 10.000/liter. Kok bisa?
Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Hanung Budya mengatakan, perhitungan harga BBM subsidi, terutama bensin premium tidak bisa dihitung harga minyak dunia saat ini. Tapi harus dihitung secara rata-rata dari Januari hingga Oktober.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada dua komponen dalam perhitungan BBM baik yang disubsidi maupun non subsidi, yakni ICP dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, ICP tahun ini adalah:
- Januari US$ 105,8 per barel
- Februari US$ 106,08 per barel
- Maret US$ 106,90 per barel
- April US$ 106,20 per barel
- Mei US$ 106,44 per barel
- Juni US$ 108,95 per barel
- Juli US$ 104,63 per barel
- Agustus US$ 99,51 per barel
- September US$ 94,97 per barel
- Oktober US$ 83,72 per barel
Jadi bila dihitung secara rata-rata, ICP dalam 10 bulan terakhir sekitar US$ 102,32 per barel.
Vice Presiden Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan, jika ICP US$ 100 per barel dengan dolar rata-rata Rp 12.000, maka harga bensin premium keekonomian Rp 10.000 per liter.
"Kalau harga minyak mentah saat ini US$ 80 per barel dengan kurs Rp 12.000 maka harga premium keekonomian atau non subsidi Rp 8.600 per liter, tapi kalau dihitung rata-rata harga minyak US$ 100 per barel dengan kurs Rp 12.000 per dolar, maka harga premium keekonomian Rp 10.000 per liter," ungkap Ali.
Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago menjelaskan, jangan melihat harga premium non subsidi murah saat ini, karena harga minyak sedang turun. Tapi kalau dihitung rata-rata harga premium non keekonomian masih tinggi.
"Kita tidak menghitungnya harga premium keekonomian bulan ini saja, tapi sejak awal tahun di mana harga minyak masih tingggi sampai beberapa bulan terakhir, harga minyak mentah itu tidak ada yang bisa memprediksi kapan terus murahnya, bisa saja besok atau lusa harganya kembali tinggi," kata Andrinof semalam.
"Jadi jangan diartikan kalau harga minyak turun harga premium non subsidi Rp 8.600 per liter, sehingga dengan kenaikan Rp 2.000 maka premium subsidi Rp 8.500 per liter artinya pemerintah hanya beri subsidi Rp 100 per liter, bukan. Hitungnya tidak begitu, tapi dihitung rata-rata dari awal tahun sampai sekarang," tutup Andrinof.
Jadi dengan kenaikan harga BBM subsidi Rp 2.000/liter, masih ada subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Untuk bensin premium yang harganya naik menjadi Rp 8.500/liter, pemerintah menyatakan masih ada subsidi Rp 1.500/liter.
(rrd/dnl)










































