Demikian dikemukakan Agus DW Martowardojo, Gubernur BI, saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (18/11/2014).
"BI menyambut baik kebijakan reformasi fiskal pemerintah untuk realokasi subsidi BBM ke sektor produktif. Ini langkah mendasar dan bagian penting dalam reformasi struktural," tutur Agus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meski ada peningkatan harga dalam jangka pendek, tekanan inflasi diyakini akan tetap terkendali dan bersifat temporer," tegasnya.
Dalam jangka menengah-panjang, Agus meyakini kenaikan harga BBM akan membawa dampak positif. Kenaikan harga dapat mengerem laju konsumsi, sehingga impor pun turun. Penurunan impor BBM akan lebih sehat bagi neraca perdagangan dan transaksi berjalan, sehingga pada gilirannya akan membuat nilai tukar rupiah lebih stabil.
"Kebijakan tersebut dipercaya akan mengurangi defisit neraca berjalan, terutama migas. Ini juga akan meningkatkan kapasitas fiskal pemerintah dalam mendorong ekonomi lebih tinggi," jelasnya.
Oleh karena itu, Agus meyakini ekonomi pada 2015 bisa tumbuh lebih tinggi. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2014 di kisaran 5,4-5,8%, lebih baik dibandingkan prediksi untuk 2014 yaitu 5,1-5,5%.
(hds/hen)











































