"Tugas saya membuat sektor ini menjadi transparan. Menelusuri dari hulu sampai hilir sumbatan-sumbatan. Hipotesisnya, ini ada kelompok-kelompok kepentingan yang sangat nyaman berada di kekeruhan ini," tegas Faisal kala ditemui detikFinance, Selasa (18/11/2014).
Faisal mengibaratkan, para mafia migas ini seperti ikan lele yang sangat senang berada di air yang keruh. Sebaliknya, lele tidak akan bertahan di air jernih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika air terus keruh, menurut Faisal, maka ikan-ikan yang bagus tidak mampu bertahan. "Sektor migas ini seperti akuarium, tapi akuariumnya butek karena dikuasai mafia. Yang paling cepat mati siapa? Ikan mas koki. Pelaku-pelaku yang baik tidak bisa bertahan di tempat itu, matilah orang-orang baik itu," jelasnya.
Ketika pelaku-pelaku yang baik tidak bisa bertahan, maka yang tersisa hanya para mafia. Mereka melanggengkan cengkeramannya dengan mendekati penguasa.
"Munculah yang namanya lele, ikan sapu-sapu yang hidupnya begitu. Ikan-ikan jahat ini sekali makan banyak, dan mereka ingin mempertahankan kenikmatannya itu. Caranya, dia dekati kekuasaan," tutur Faisal.
Perumpamaan lain, lanjut Faisal, mafia migas ibarat orang yang suka di tempat gelap. Komite Reformasi Tata Kelola Migas akan coba menerangi sehingga tidak ada lagi yang tersembunyi.
"Di lorong-lorong gelap, di situlah mafia. Tugas kami adalah menerangi lorong-lorong itu, supaya setan itu tidak berada di situ. Coba taman-taman kota ini gelap, itu remaja-remaja di situ. Bikin terang saja, nggak akan berani yang indehoi. Jadi ini simpel sebetulnya," jelas Faisal.
(rrd/hds)











































