"Kami sudah menghubungkan Newmont dengan investor karena kita ingin ada smelter di Kabupaten Sumbawa Barat ini. Investornya dari China, mereka sudah bertemu 3 kali," kata Zulkifli Muhadli di Taliwang, Sumbawa Barat, NTB, Kamis (20/11/2014).
Investor Tiongkok ingin membangun smelter berkapasitas 1.200 ton/hari. Zulkifli mengatakan, investor itu juga ingin membangun pembangkit listrik dan dermaga sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zulkifli optimistis, smelter ini dapat dibangun pada awal 2015. Ia mengatakan bahwa smelter ini akan ekonomis untuk Newmont.
"Sekarang sudah intens. Newmont dikejar waktu kan dan semoga bisa segera harusnya 2015 sudah terbangun," ucapnya.
Secara terpisah, Presiden Direktur Newmont Nusa Tenggara, Martiono mengatakan, perusahaan yang dipimpinnya saat ini sudah beroperasi penuh. Setelah beberapa bulan lalu sempat menghentikan operasi, karena larangan ekspor tambang mentah.
Kini, operasi penambangan Newmont telah kembali normal dan Martiono optimistis terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo.
"Harapannya besar sekali, supaya operasi kembali," ujarnya.
"Kita beroperasi penuh. Semua karyawan sudah kembali," ucapnya.
Seperti diketahui sejak larangan ekspor mineral mentah berlaku efektif 12 Januari 2014, para perusahaan tambang seperti Newmont hingga Freeport menghentikan ekspor konsentrat tambang mereka. Para perusahaan tambang yang mengekspor barang setengah jadi atau konsentrat akan dikenakan tarif bea keluar (BK) ekspor progresif.
Pada awal Mei 2014 lalu, setelah fasilitas penyimpanan konsentrat tembaga di lokasi tambang penuh, maka Newmont memasuki tahap penghentian operasi penambangan dan pemrosesan. Kemudian, setelah ada kesepakatan revisi KK antara Newmont dan pemerintah termasuk soal revisi besaran royalti dan sebagainya, Newmont kembali ekspor pada September 2014 lalu dan kini kembali beroperasi secara normal.
(dnl/hen)











































