Bulan lalu Perdana Menteri Malaysia Najib Razak berniat menekan utang negeri jiran tersebut. Salah satu caranya adalah dengan memangkas subsidi-subsidi.
Salah satu yang dipangkas adalah subsisi BBM. Lewat pemangkasan subsidi ini, pemerintah Malaysia menargetkan pertumbuhan ekonomi 5-6% untuk tahun ini dan tahun depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, jumlah utang Malaysia terus menggunung. Nah setelah Pemilu, pemerintah baru Malaysia bertekad untuk mengurangi utang ini dengan mengeluarkan kebijakan yang non populis.
Telah banyak subsidi yang telah dikurangi oleh pemerintah Malaysia, termasuk subsidi BBM dan gula. Mulai April tahun depan, pemerintah Malaysia juga akan menerapkan pajak barang dan jasa untuk meningkatkan penerimaan negara.
Kementerian Keuangan Malaysia mengatakan, tahun depan subsidi yang yang dikurangi mencapai 37,7 miliar ringgit (US$ 11,6 miliar) atau sekitar Rp 139 triliun, turun 7,1% dari tahun ini.
"Mengurangi defisit fiskal adalah tanggung jawab moral dari generasi kami," ujar Najib di hadapan parlemen Malaysia bulan lalu, seperti dilansir dari AFP.
"Kami tidak mau di masa depan rakyat Malaysia terjebak dalam lilitan utang pemerintah," kata Najib
Masalah utang luar negeri juga dialami Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah harga BBM subsidi yang sangat murah membuat konsumsinya melonjak.
Akibat konsumsi BBM yang melonjak, Indonesia harus bergantung kepada impor minyak nilainya semakin tinggi dan mengerus neraca perdagangan.
(ang/dnl)











































