Pasca keputusan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi Rp 2.000 per liter, disparitas atau selisih harga BBM subsidi dan non subsidi (Pertamax) makin kecil.
Hal ini berdampak pada meningkatnya konsumsi BBM non subsidi yang dimiliki PT Pertamina yaitu Pertamax Cs yang signifikan hingga 36%.
"Dalam beberapa hari terakhir ini penjualan Pertamax dan jenis BBM non subsidi lainnya meningkat cukup signifikan. Per hari kemarin data penjualan Pertamax dan Pertamax Plus naik dari biasanya 25.000 kilo liter menjadi naik 34.000 kilo liter/hari," ujar Vice President Fuel Marketing and Distribution PT Pertamina (Persero) Suhartoko, kepada detikFinance, Minggu (23/11/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena disparitasnya kecil, Premium Rp 8.500 per liter sedangkan Pertamax hanya Rp 9.950 per liter, dengan selisih harga yang tidak terlalu jauh ini masyarakat lebih pilih Pertamax 92 atau 95, karena walau lebih mahal sedikit tapi mendapatkan BBM yang kualitasnya jauh lebih baik," ungkapnya.
Ia menambahkan kenaikan permintaan Pertamax mulai terasa sejak Rabu (19/11/2014) atau 1 hari setelah kenaikan harga BBM subsidi. Misalnya pada Rabu, konsumsi meningkat dari 25.000 KL/hari menjadi 33.000 KL/hari, kemudian naik lagi hingga 34.000 KL/hari pada Kamis hingga Sabtu kemarin.
Presiden Jokowi telah menaikkan harga BBM subsidi (Premium dan Solar) mulai Pukul 00.00 WIB, Selasa (18/11/2014), atau telah berlangsung 6 hari yang lalu. Harga bensin premium naik dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500/liter, sedangkan solar naik dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500/liter atau naik Rp 2.000/liter.
(rrd/hen)











































