Harganya Kini Beda Tipis dengan Bensin Premium, Ini Kelebihan BBM Non Subsidi

- detikFinance
Minggu, 23 Nov 2014 17:21 WIB
Jakarta -

Kenaikan harga BBM subsidi Rp 2.000 per liter menjadi Rp 8.500 per liter membuat disparitas atau selisih harga dengan BBM non subsidi makin tipis. Kini harga BBM non subsidi seperti Pertamax (Rp 9.950) hanya terpaut lebih mahal Rp 1.450/Liter, dari sebelumnya yang bisa mencapai Rp 5.000/liter, dibandingkan bensin premium (BBM subsidi).

Manajer Media PT Pertamina (Persero) Adiatma Sardjito mengatakan penggunaan bensin dengan oktan minimal 92 seperti produk Pertamina yakni Pertamax 92 dan 95 (Pertamax Plus) sangat baik untuk mesin kendaraan.

"Karena bensin RON 92 seperti Pertamax dan Pertamax Plus dilengkapi Additive ecosave technology diantaranya mengandung detergency, corrosion inhibitor, dan demulsifier," ungkap Adiatma kepada detikFinance, Minggu (23/11/2014).

Ia mengatakan, fungsi dari detergency pada Pertamax 92 adalah menjadi pembersih mesin bagian dalam sehingga mesin menjadi terpelihara, Pertamax sudah memenuhi standar WWFC (World Wide Fuel Charter) kategori 2,3, dan 4.

"corrosion inhibitor memiliki fungsi sebagai pelindung anti karat pada dinding tangki, saluran bahan bakar dan ruangan bakar mesin, sehingga mesin menjadi awet dan terlindungi," katanya.

Adiatma menambahkan, sedangkan demulsifier pada Pertamax berfungsi menjaga kemurnian bahan bakar dari campuran air sehingga pembakaran menjadi lebih sempurna.

"Pada setiap bahan bakar pasti ada yang mengandung air ketika berada dalam mesin kendaraan. Dengan adanya demulsifier ini air yang masuk ke dalam bensin akan dihilangkan sehingga pembakaran menjadi sempurna," ungkapnya.

Menurutnya bahan bakar non subsidi seperti Pertamax sangat cocok untuk kendaraan dengan teknologi terkini.

"Makanya bahan bakar RON 92 terutama Pertamax sangat direkomendasikan pada kendaraan bensin yang menggunakan teknologi setara dengan electronic fuel injection (EFI), direct injection dan calalytic converters," jelasnya.

 

Ia juga berpesan soal penggunaan octan booster (zat aditif) yang banyak dipakai masyarakat agar menambah oktan BBM sangat tidak dianjurkan. Misalnya dari RON 88 ditingkatkan jadi RON 92.

"Banyak alasannya, pertama pencampuran tidak homogen karena secara manual, sehingga oktan number yang dihasilkan tidak diketahui secara pasti, mengakibatkan setting mesin menjadi tidak sesuai," ujar Adiatma.

Adiatma menambahkan, penggunaan octan booster juga berakibat timbulnya kerak pada mesin, karena tidak diketahui jenis bahan yang dipergunakan.

"Selain itu, penggunaan aditif dan bahan bakar harus memenuhi spesifikasi dari Dirjen Migas agar aman, tidak membahayakan manusia, tidak merusak mesin, serta tidak menimbulkan pencemaran bagi lingkungan," ungkapnya.

Ia juga tak menyarankan tindakan mencampur BBM jenis Premium dengan Pertamax, dengan tujuan agar mendapatkan RON yang lebih tinggi.

"Itu juga kami tidak sarankan, karena RON yang dihasilkan juga tidak diketahui berapa pastinya. Namun Pertamina menjamin jika Pertamax 92 atau 95 dipakai secara rutin, mesin jadi bersih, busi tahan lama karena minim erosi atau kerak, dan banyak lagi manfaatnya," tutupnya.

(rrd/hen)