Ia mengatakan, selama 3 bulan ini akan ada sekelompok masyarakat yang nyinyir dengan keputusan tersebut.
"Tiga bulan ini mungkin pemerintah akan jadi bulan-bulanan masyarakat yang tidak suka dengan kenaikan BBM ini. Mungkin sampai akhir tahun atau bahkan Januari tahun depan," kata Tanri kala ditemui usai acara 'Indonesia Economic Forum' di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (25/11/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, tugas pemerintah adalah memberikan pengertian kepada masyarakat luas, tentang pentingnya keputusan kenaikan harga BBM subsidi bagi kelangsungan perekonomian nasional.
Namun demikian, tambah Tanri, sekeras apa pun usaha pemerintah, tetap saja akan ada masayarakat yang tidak mengerti. Bila hal itu terjadi, yang harus dilakukan pemerintah bukanlah berhenti, melainkan menunjukkan hasilnya kepada masyarakat.
"Sudah diberi pengertian tapi tidak mengerti ya pemerintah go ahead saja lah, jangan berhenti. Berarti beri pengertiannya bukan dengan omongan tapi dengan bukti," pungkasnya.
Tanri menyebut, kebijakan yang diambil Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut bagus, dalam menjawab ancaman keuangan nasional di masa depan.
"Itu bagus ya. Karena dengan menaikkan harga BBM berarti pemerintah punya ruang fiskal yang lebih longgar untuk melakukan macam-macam yang besar," ujar dia.
Dengan ruang fiskal yang lebih longgar, pemerintah bisa melakukan banyak pembangunan. Karena dana subsidi yang semula banyak dihamburkan dalam bentuk bahan bakar, dialihkan ke sektor pembangunan infrastruktur yang bisa mendorong negara ini lebih produktif.
"Kan sudah jelas manfaatnya pengalokasian subsidi itu lebih mengarah ke produktif. Bagi orang yang mengerti pasti setuju," pungkasnya.
(dna/dnl)











































