Dikutip dari Reuters, saat ini harga minyak light crude untuk pengiriman Desember 2014 berada di posisi US$ 75,89/barel. Sementara minyak jenis brent dibanderol US$ 79,64/barel.
Meski ada kemungkinan pengurangan pasokan dari OPEC yang menyebabkan harga minyak naik, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menilai Indonesia tidak perlu terlalu reaktif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun ada kenaikan harga minyak, Bambang memperkirakan tidak akan terlau tinggi. Pasalnya, kenaikan harga minyak yang terlalu tinggi akan menghambat ekonomi global yang masih belum pulih benar.
"Saya yakin kenaikan harganya tidak terlalu tinggi," tegasnya.
Bambang pun memaklumi jika negara-negara OPEC berkepentingan agar harga minyak bisa kembali naik. Harga minyak di kisaran US$ 75/barel merupakan yang terendah dalam 4 tahun terakhir.
"Saya rasa mereka akan lakukan tindakan dengan menurunkan produksi, supaya harga naik. Mereka punya kepentingan supaya harganya naik," tuturnya.
Salah satu negara yang terkena dampak dari penurunan harga minyak adalah Rusia. Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengatakan, total kerugian Rusia karena anjloknya harga minyak (ditambah sanksi negara-negara Barat) adalah US$ 140 miliar, atau sekitar Rp 1.680 triliun.β¬
Indonesia pernah menjadi anggota OPEC. Namun sejak 2008, Indonesia memutuskan untuk keluar.
Alasannya, Indonesia sudah bukan lagi negara pengekspor minyak. Indonesia sudah resmi menjadi net importir minyak. Meski masih bisa ekspor, tetapi impor minyak dan produk turunannya lebih besar.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P) 2014, lifting atau produksi siap jual minyak diasumsikan 818.000 barel per hari. Padahal dulu saat masih menjadi anggota OPEC, lifting minyak Indonesia mencapai 1,3 juta barel per hari.
(dna/hds)











































