Untuk harga BBM, sosok yang akrab disapa Sandi ini memandang penyesuaian memang harus dilakukan. Eks pendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam Pilpres 2014 ini menyebut alokasi subsidi BBM selama ini dinilai sudah sangat besar dan tidak sehat.
"Positif ini bagi para pengusaha. Ini bagian mengelola energi agar kita bisa berdaya saing," kata Sandi di sela acara Indonesia Economic Forum di Ritz Carlton, Jakarta Selatan, Selasa (25/11/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang daya beli 2-3 bulan turun, tetapi ke depan daya beli kembali. Yang kita pikirkan bukan ekonomi APBN tapi secara keseluruhan. Kita punya pendapatan daya saing," jelasnya.
Meski setuju atas kenaikan harga BBM, Sandi sedikit protes terhadap langkah Bank Indonesia yang langsung menaikkan BI rate ke angka 7,75% pasca kenaikan harga BBM. Langkah bank sentral ini dinilai terburu-buru karena bisa menekan pengusaha. Beban pengusaha akan naik karena bunga pinjaman ikut merangkak naik.
"Naikkan suku bunga, BI tentu punya alasan. Tapi akibatnya likuiditas akan semakin terbatas. Mungkin dilihat dampak kenaikan BBM tapi jangan langsung dinaikkan," tegasnya.
(feb/hds)











































