Penyebab minimnya SPBG adalah biaya yang mahal dan waktu pengerjaan yang lama. Namun Kepala Unit Pengendalian Kinerja Kementerian ESDM Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan, ada cara yang bisa ditempuh agar untuk menambah jumlah SPBG.
Caranya adalah dengan mensinergikan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik PT Pertamina (Persero) dengan jaringan pipa gas milik PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan cara ini, lanjut Widhyawan, biaya pendirian SPBG bisa ditekan lantaran tidak perlu menyediakan lahan baru. Sekaligus bisa menjangkau konsumen dengan lebih mudah.
"Sekarang kan kendalanya bangun SPBG tapi rugi karena yang punya kendaraan pakai BBG belum banyak. Tapi kalau ini sinergi, sambil tunggu market-nya terbentuk, SPBG nggak akan rugi karena tertutup dengan pemasukan dari SPBU-nya," paparnya.
Namun demikian, ia mengaku hal tersebut bukan hal yang mudah dilakukan. Harus ada kesamaan pandangan dari dua perusahaan enegi pelat merah ini. Dia menilai perlu ada langkah pendekatan dari Menteri BUMN.
"Memang urusan ini business to business. Tapi karena ini perusahaan 100% milik negara, jadi memang trigger-nya ada di Menteri BUMN," kata Widhyawan.
(dna/hds)











































