Oleh karena itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyarankan agar pemerintah menerapkan skema subsidi tetap untuk BBM. Dengan skema ini, pemerintah hanya memberi subsidi dalam jumlah tertentu untuk per liter BBM bersubsidi dan sisanya mengikuti harga pasar.
Artinya, harga BBM bersubsidi bisa naik atau turun tergantung perkembangan harga minyak dunia, kurs, atau lifting. Namun peran negara masih ada karena subsidi tetap diberikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, hal ini merupakan lanjutan dari kebijakan pemerintah yang telah menaikkan harga BBM bersubsidi. Kenaikan harga saja belum cukup, karena perlu konsistensi kebijakan untuk mereformasi subsidi.
"Tanpa konsistensi dalam menjalankan kebijakan, sulit bagi Indonesia untuk menghadapi berbagai risiko. Bisa jadi akhirnya akan membawa ekonomi jatuh dengan keras," terangnya.
Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan, menyebutkan pemerintah membuka peluang menerapkan subsidi tetap per liter untuk BBM. Namun, rencana ini masih dalam kajian.
"Ini sedang dikaji agar penerapannya nanti tepat," kata Bambang dalam kesempatan yang sama.
Subsidi tetap, demikian Bambang, memang punya dampak positif. Pola ini bisa menghilangkan risiko jebolnya subsidi BBM kala terjadi perubahan harga minyak, kurs, atau lifting.
"Ini untuk mecegah risiko dari pelemahan nilai tukar. Kita tidak bisa memprediksi kondisi global yang akan mempengaruhi nilai tukar," sebutnya.
(mkl/hds)











































