Naiknya stok minyak AS sebesar 1,9 juta barel dari pekan sebelumnya, turut memicu kenaikan anjloknya harga minyak dunia.
Dilansir dari BBC, Kamis (27/11/2014), harga minyak jenis Brent semalam turun 0,8 sen menjadi US$ 77,75/barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara harga minyak produksi AS turun 40 sen menjadi US$ 73,69/barel. "Pasar minyak akan stabil dengan sendirinya," demikian kata Menteri Perminyakan Arab Saudi, Ali al-Naimi.
Di OPEC, Arab Saudi merupakan produsen minyak terbesar, dari 12 negara yang jadi anggota. Pertemuan OPEC dilakukan untuk mencari cara menahan jatuhnya harga minyak.
Sejak Juni, harga minyak jenis Brent telah terjun 30%. Ini dipicu oleh naiknya produksi shale oil di AS, dan melemahnya permintaan minyak dunia.
Ada spekulasi yang mengatakan, pertemuan OPEC pada hari ini akan mengumumkan soal pemangkasan produksi untuk pertama kalinya sejak 2009, untuk mengangkat harga minyak di pasar.
Di antara apra anggota OPEC, Venezuela dan Iraq yang mendukung rencana pemangkasan produksi ini.
Namun, Uni Emirat Arab (UEA) sepertinya akan bertindak yang sama dengan Arab Saudi. Menteri Perminyakan UEA, Shuail bin Mohammed al-Mazroi tidak mau memangkas produksi minyak.
"Kami tidak mau panik, karena kondisi ini bukan yang pertama kali terjadi. Ini buka sebuah krisis yang membutuhkan kepanikan," jelas al-Mazroi.
Rusia yang memproduksi 11% minyak dunia juga menyatakan tidak mau memangkas produksinya.
(dnl/hds)











































