"Sayang kebijakan penghematan energi saat ini belum didukung dengan kebijakan insentif fiskal, hal ini yang membuat produk-produk hemat energi harganya cukup mahal, karena dikategorikan sebagai barang mewah," kata mantan Direktur Jenderal Energi Batu Terbarukan Kementerian ESDM Luluk Sumiarso, ditemui pada acara Pembukaan Diskusi Nasional 'Konservasi dan Efisiensi untuk Ketahanan Energi dan Pembangunan Berkelanjutan Demi Masa Depan Indonesia', di Kantor BPPT, Jakarta, Kamis (27/11/2014).
Luluk mencontohkan lampu jenis LED (Light Emitting Diode), mobil hybrid yang hermat energi, pemanas air tenaga surya (matahari) harganya tergolong cukup mahal, sehingga masyarakat belum banyak yang menggunakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luluk mengatakan, pemerintah harus punya perhatian khusus terkait masalah kebijakan penghematan atau konservasi energi, karena kalau tidak diimbangi dengan kebijakan fiskal, barang-barang hemat energi tidak akan laku dan dilirik masyarakat di Indonesia.
"Kebijakan hemat energi harusnya klop dengan kebijakan fiskal, kalau seperti ini terus orang nggak mau pakai produk hemat energi," tutupnya.
(rrd/dnl)











































