"Tadi kita memaparkan apa yang sudah dilakukan selama ini. Banyak hal yang harus dipersiapkan, apa saja kesulitan Pertamina selama ini yang disampaikan oleh Pak Husen (mantan Plt Dirut Pertamina)," kata Dwi usai melakukan pertemuan dengan karyawan dan mantan direksi Pertamina di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Senin (1/12/2014).
Dwi mengatakan, saat ini ada 2 tantangan yang harus dihadapi Pertamina. Pertama adalah penurunan harga minyak dunia, dan kedua dan berlimpahnya produksi dan pasokan gas dari Amerika Serikat (AS).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dwi, cara untuk membawa Pertamina menjadi salah satu pemain utama di dunia pada 2025 adalah dengan meningkatkan kinerja di sektor hulu.
"Dengan apa yang sudah dilakukan selama ini, kita lihat bahwa supaya berkembang ke depan yang paling baik adalah di sektor hulu. Jadi hulu harus kita lebih dorong ke depan, sehingga margin keuntungannya bisa bersaing dan setara dengan perusahaan-perusahaan yang di luar," jelasnya.
Namun, lanjut Dwi, bukan berarti Pertamina mengesampingkan sektor hilir. Ini dilakukan untuk menjamin kedaulatan energi nasional.
"Kilang harus kita bangun, storage atau cadangan BBM harus kita tingkatkan. Sehingga dapat menjamin ketahanan energi Indonesia," tuturnya.
(rrd/hds)











































