Berakhirnya Era 'Easy Oil' di Indonesia

Berakhirnya Era 'Easy Oil' di Indonesia

- detikFinance
Rabu, 03 Des 2014 14:49 WIB
Berakhirnya Era Easy Oil di Indonesia
Jakarta -

Cadangan minyak Indonesia saat ini hanya 4,1 miliar barel, dan akan habis 10 tahun lagi bila tidak ada cadangan baru. Masa minyak murah di Indonesia telah berakhir.

Mendorong pencarian minyak baru di tengah anjloknya harga minyak dunia saat ini bukan perkara gampang. Harga minyak yang saat ini menyentuh kisaran US$ 70/barel membuat proyek eksplorasi tak lagi ekonomis.

Lukman Mahfoedz, Ketua Indonesia Petroleum Association (IPA) yang juga Presiden Direktur PT Medco Energi Internasional Tbk mengungkapkan, ketidakekonomisan pencarian minyak di Indonesia adalah, karena wilayah cadangan minyak sulit untuk disentuh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Indonesia ini yang era easy oil itu sudah berakhir. Sekarang itu minyak yang ada berada di daerah yang sulit yang ada di wilayah timur Indonesia yang infrastrukturnya kurang, yang ada di laut dalam yang biaya investasinya sangat besar, makanya perlu investor dari luar," tutur Lukman saat menghadiri acara 'Pertamina Energy Outlook 2015' di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Rabu (3/12/2014).

Dia mengatakan, saat ini para perusahaan migas di Indonesia sedang kembali berhitung soal keekonomisan proyeknya. Jangan sampai biaya investasi yang dikeluarkan untuk mengebor minyak tidak balik modal, atau bahkan rugi.

Lukman yang juga Presdir Medco ini mengatakan, saat ini perusahaannya memang tengah aktif mengambil sejumlah blok migas di luar negeri, contohnya di Oman, Yaman, dan Tunisia. Semua blok migas yang diambil sudah berproduksi, jadi risikonya rendah.

Bagaimana tips untuk bisa mengambil blok migas yang sudah berproduksi?

"Tipsnya itu ya harus rajin, harus diurus dengan baik, dan itu bukan sesuatu pekerjaan yang mudah. Jadi kita itu saat ini diapresiasi oleh Oman, itu setelah 10 tahun di sana, operasi di Oman. Kita operator sejak awal, tapi 10 tahun dan akan diberikan perpanjangan blok," tutur Lukman.

Medco, ujar Lukman, berani memberikan janji untuk bisa meningkatkan produksi blok migas yang akan diambil.

"Seperti Blok yang ada di Oman itu diprediksi oleh Shell bisa hanya 9.000 barel per hari saja, tetapi begitu dioperasikan oleh Medco jadi 22.000 barel per hari. Makanya kita diberikan perpanjangan oleh Oman bahkan diberikan lagi blok yang lain," kata Lukman.

(dnl/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads