"Kilang minyak yang kita miliki saat ini usianya sudah tua sehingga tidak efisien, yang paling baru kita bangun 20 tahun lalu yakni kilang Balongan," ujar Direktur Pertamina Ahmad Bambang, di acara Pertamina Energy Outlook 2015, di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Rabu (3/12/2014).
Ahmad mengatakan, dari 6 kilang yang dimiliki, total kapasitasnya 1,046 juta barel per hari. Namun hanya mampu mengolah 800.000 barel per hari. Sementara kebutuhan BBM dalam negeri mencapai 1,6 juta barel per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini Pertamina sedang mengembangkan kapasitas kilang yang dikenal dengan Refinery Development Maser Plan (RDMP), yang akan meningkatkan kapasitas kilang menjadi 1,9 juta barel per hari pada 2019.
"Tapi inikan jadinya tidak sekarang (2019 baru selesai), pada saat itu kebutuhan BBM sudah meningkat lebih tinggi lagi," ucapnya.
Tentunya, kata Bambang, saat ini Pertamina merencanakan membangun 2 kilang minyak berkapasitas cukup besar.
"Lokasinya ada di Bontang bersampingan dengan fasilitas kilang LNG Bontang. Kedua, lokasinya di Tuban yang memanfaatkan fasilitas kilang TPPI. Sementara di lokasi Indonesia timur lainnya juga akan dibangun kilang-kilang kapasitas kecil untuk mengefisienkan distribusi BBM ke daerah timur Indonesia," ungkapnya.
Seperti diketahui, untuk meningkatkan kapasitas 6 kilang minyak yang sudah tua ini, Pertamina membutuhkan dana US$ 20 miliar atau sekitar Rp 240 triliun.
Saat ini 6 kilang yang dimiliki Pertamina meliputi:
- Kilang Dumai Riau dengan kapasitas 170.000 barel per hari
- Kilang Plaju di Sumatera Selatan berkapasitas 133.000 barel per hari
- Kilang Cilacap di Jawa Tengah berkapasitas 348.000 barel per hari
- Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur berkapasitas 260.000 barel per hari
- Kilang Balongan di Jawa Barat kapasitas 125.000 barel per hari
- Kilang Kasim di Papua berkapasitas 10.000 barel per hari.











































