Naik 237%, Konsumsi Pertamax Tembus 5 Juta Liter/Hari

Naik 237%, Konsumsi Pertamax Tembus 5 Juta Liter/Hari

- detikFinance
Rabu, 03 Des 2014 19:34 WIB
Naik 237%, Konsumsi Pertamax Tembus 5 Juta Liter/Hari
Jakarta -

Setelah harga BBM subsidi naik Rp 2.000/liter, konsumsi BBM non subsidi seperti pertamax yang dijual oleh PT Pertamina (Persero) naik. Bahkan kenaikannya hingga 237%.

SVP Fuel Marketing and Distribution Pertamina Suhartoko mengatakan, konsumsi pertamax saat ini sudah di atas 5.000 kiloliter (KL) per hari, atau 5 juta liter.

"Bisa jadi itu terus naik. Seminggu terakhir ini (konsumsi pertamax) 5.219 KL per hari," jelas Suhartoko di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (3/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suhartoko mengatakan, orang yang sudah merasakan pertamax akan terus menggunakan pertamax. "Karena sudah tahu persis enaknya pertamax seperti apa," ungkap Suhartoko.

Meski konsumsi pertamax melonjak, namun kuota BBM subsidi tahu ini sebesar 46 juta KL akan tetap jebol. Karena konsumsi solar subsidi yang parah tingginya.

Kunjungan Suhartoko ke Kementerian ESDM adalah untuk membahas soal pembentukan harga BBM subsidi. Menurutnya, pembentukan harga BBM subsidi seperti premium itu berdasarkan data harga minyak dan nilai tukar dolar rata-rata yang diberikan oleh Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan.

"Justru Kementerian ESDM dan Kemenkeu itu memberi tahu ke Pertamina. MOPS (Mean of Platts Singapore ) sekian. Dolar sekian. Jadi kalau harga patokan itu tataran kebijakan. Jadi kewenangan pemerintah," ungkap Suhartoko.

Soal penjualan BBM subsidi, Pertamina mengaku tekor. Di 2013 lalu, Pertamina tekor Rp 350 miliar dari penjualan BBM subsidi, dan di tahun ini akan meningkat kerugiannya.

"Dari 2009 itu MOPS 8%, kita ruginya Rp 4,5 triliun. Di 2010 ruginya Rp 3,34 triliun. Pada 2011 Rp 900-an miliar. Lalu 2012 Rp 800-an miliar. Kemudian di 2013 Rp 350 miliar," jelas Suhartoko.

Kok ruginya bisa turun? "Bisa jadi karena komponen MOPS. Kalau MOPS-nya naik bisa jadi harga patokan yang tidak tersangkut MOPS akan jatuh," kata Suhartoko.

Untuk komponen biaya pengadaan BBM subsidi, Suhartoko mengatakan, komponennya adalah harga minyak impor, biaya kilang, angkutan laut, distribusi di pelabuhan, lalu biaya outsourcing. Dari semuanya, 93% dikuasai oleh biaya pengadaan dari minyak. Jadi apabila patokan yang diberikan pemerintah tidak sesuai dengan biaya impor sebenarnya, maka Pertamina akan rugi.

Pertamina, ujar Suhartoko, tidak keberatan membuka biaya impor minyak atau BBM. Karena biaya impor ini tidak ada kaitannya dengan subsidi.

"Pertamina hemat tidak lantas subdisinya hemat. Tidak, sama sekali itu 2 binatang yang berbeda," ujar Suhartoko.

Suhartoko mengatakan, Pertamina juga harus menyiapkan stok BBM. Untuk bensin premium disiapan stok 18 hari, solar 21 hari, minyak tanah (kerosene) 72 hari, avtur 28,8 hari, pertamax 49,35 hari, pertamax plus 44,9 hari, dan pertamina dex (solar non subsidi) 75 hari.

(dnl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads