Indonesia, kata Faisal, bisa senasib dengan negara-negara penghasil minyak yang kini terbelah karena konflik, seperti Irak, Libya, hingga Suriah. Konflik tersebut dipicu oleh kesalahan pengelolaan migas oleh negara hingga mafia.
"Jangan sampai sampai seperti Petrobas ada 23 elit politik dipenjara karena jarah national oil company, terjadi di Libya, Suriah, Nigiria. Dia kacau balau sampai sekarang karena abuse of resources. Yang munculkan Assad, Khadafi, kehancuran Saddam. Negara itu kacau karena minyak," kata Faisal saat menjadi pembicara utama di Kongres Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hotel Le Meredien, Jakarta, Kamis (4/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tanda-tanda minyak jadi kutukan sudah terlihat. Produksi minyak turun dari tertinggi 1,6 juta barel jadi 790 ribu barel per hari rata-rata Januari-September 2014. Sementara konsumsi (BBM) meningkat luar biasa, dari kurang 400 ribu barel di 1980, jadi 1,6 juta barel," paparnya.
Turunnya produksi minyak menyebabkan Indonesia harus mengimpor minyak mentah, untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Akibatnya Indonesia masuk ke dalam pengimpor terbesar untuk katagori BBM.
"Saya disampaikan oleh Menteri ESDM bahwa kita negara pengimpor terbesar di dunia untuk gasoline (minyak). Saya nggak puas dari satu sumber. Saya minta dicek ke industri migas," jelasnya.
(feb/dnl)











































