Darmawan Prasodjo, Analis Ekonomi Energi mengungkapkan hal ini akibat tidak meratanya pembangunan dan kebijakan energi murah berupa BBM bersubsidi. Padahal subsidi BBM hanya bisa dinikamti segelintir orang, khususnya orang-orang kaya.
"Faktanya, 42,46% penduduk Indonesia masih menggunakan kayu bakar. Artinya masih banyak bagian Indonesia yang mengalami kemiskinan energi," kata Darmawan dalam acara Pertamina Energy Outlook di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (4/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya langkah pemerintah mengurangi porsi subsidi BBM sebagai langkah tepat. Namun perlu pengawasan soal realokasi subsidi agar dipastikan untuk sektor produktif yang lebih pro rakyat.
Ia harus diimbangi dengan diversifikasi pemanfaatan energi yang selama ini didominasi oleh minyak ke sumber energi alternatif lain yang dapat diperbaharui.
"Di tahun 2013 rasio elektrifikasi (penyaluran listrik) di Indonesia baru mencapai 82%. Harusnya bisa lebih dari itu. Fakta ini menunjukkan bahwa masalah energi berkelanjutan di Indonesia merupakan isu yang krusial. Sehingga, reformasi bauran energi nasional mutlak diperlukan," katanya.
Seperti diketahui selama ini anggaran subsidi energi (listrik,elpiji, dan BBM) mencapai ratusan trilun rupiah. Anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji pada 2015 dipatok sebesar Rp 276 triliun. Naik dari posisi APBN-Perubahan 2014 yang sebesar Rp 246,5 triliun.
Sedangkan subsidi listrik sebesar Rp 68,7 triliun, turun dibandingkan APBN-P 2014 yang Rp 103,8 triliun dan RAPBN 2015 yaitu Rp 72,4 triliun.
Sehingga total subsidi energi untuk tahun depan diproyeksikan berjumlah Rp 344,7 triliun. Porsinya adalah 80,2% untuk BBM dan sisanya listrik. (belum menghitung penghematan dari kenaikan harga BBM).
(dna/hen)











































