Darmawan Prasodjo, pengamat energi, menyebutkan dengan batu bara dari Indonesia, Tiongkok mampu menciptakan biaya produksi yang murah. Akibatnya, harga barang made in Tiongkok pun sangat kompetitif.
"Bauran energi Tiongkok saat ini adalah 87% batu bara. Batu bara dipilih karena harganya yang sangat murah dibanding energi lainnya. Celakanya, batu bara di Tiongkok justru didatangkan dari Indonesia," katanya dalam acara Pertamina Energy Outlook di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (4/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga barang dari Tiongkok bisa lebih murah karena ongkos produksinya lebih rendah," tegas dia.
Namun demikian, sambung dia, Tiongkok pada saat yang bersamaan menggiatkan pembangunan infrastruktur energi baru dan terbarukan. Ini bertujuan untuk menyediakan sumber energi yang lebih murah lagi dengan keberlanjutan yang lebih panjang tentunya.
"Tiongkok mengembangkan penggunaan energi terbarukan seperti angin dan sel surya. Bahkan Tiongkok merupakan merupakan negara yang paling serius untuk memproduksi energi terbarukan," kata dia.
Menurutnya, langkah ini lah yang juga perlu dilakukan Indonesia. Yaitu penyediaan sumber energi baru terbarukan, sehingga tak lagi hanya berkutat pada permasalahan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
(dna/hds)











































