Ada Usulan Batu Bara Gantikan Elpiji untuk Masak, Lebih Murah 50%

Ada Usulan Batu Bara Gantikan Elpiji untuk Masak, Lebih Murah 50%

- detikFinance
Jumat, 05 Des 2014 12:54 WIB
Ada Usulan Batu Bara Gantikan Elpiji untuk Masak, Lebih Murah 50%
Jakarta - Para ahli pertambangan mengusulkan agar pemerintah mengganti bahan bakar untuk memasak masyarakat Indonesia dari elpiji ke briket batu bara. Selain harga batu bara lebih murah hingga 50% dari elpiji, batu bara tak perlu diimpor sedangkan elpiji mayoritas masih diimpor.

Berdasarkan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), penggunaan batu bara bisa mengurangi beban subsidi elpiji yang tahunnya mencapai puluhan triliun rupiah.

Ketua Working Group Kebijakan Pertambangan Perhapi Budi Santoso mengatakan murahnya harga batu bara, bahkan bisa membantu pemerintah mengurangi beban subsidi dari elpiji yang sebesar Rp 55,1 triliun di 2014.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perhitungan saya, 1 Kg elpiji yang di masyarakat harganya Rp 6.000. Dengan briket (produk olahan batu bara) harganya bisa cuma jadi Rp 3.000. Nah, pemerintah sudah tidak perlu lagi mensubsidi, tapi masyarakat dapat sumber bahan bakarnya murah," kata Budi dalam acara coffee morning Dirjen Minerba di Kantor Ditjen Menerba Tebet, Jakarta, Jumat (5/12/2014).

Ia mengatakan energi yang dihasilkan oleh elpiji 1 Kg setara dengan briket 500 kilo kalori seharga dengan Rp 3.000.

Sayangnya, kebutuhan batu bara dan produk turunannya di level masyarakat perorangan dan industri kecil belum bisa digarap dengan baik oleh produsen batu bara. Hal ini karena volume konsumsi dianggap kurang menarik untuk dijadikan pasar atau target penjualan batu bara.

"Pedagang kan maunya hanya mengurus yang 500 ribu ton per tahun, 1 juta ton per tahun. Padahal ada industri yang hanya butuh 500 ton per tahun itu nggak terlayani karena dianggap kecil buat pedagang, nggak menarik," tuturnya.

Menurutnya dengan Indonesia punya cadangan batu bara berlimpah, komoditas ini menjadi sumber energi murah yang dapat meningkatkan daya saing industri domestik.

Para pelaku usaha dapat menekan biaya produksi seminim mungkin sehingga berpengaruh pada nilai jual produk yang juga lebih kompetitif.

Menurutnya besarnya kebutuhan energi untuk bahan bakar rumah tangga dan industri kecil tersebut saat ini masih didominasi oleh elpiji yang belum merata pemanfaatannya.

"Kebutuhan elpiji nasioanal kita masih 5,7 juta ton/tahun. Kalau itu diganti dengan batu bara separuhnya saja, energi yang dihasilkan malah jauh lebih besar. Bisa setara 7,5 juta ton epiji," katanya

Untuk itu, perlu peran serta aktif dari pemerintah untuk mendorong lahirnya kebijakan pembatasan ekspor batu bara dan pembetukan Direktorat khusus di Kementerian ESDM untuk mengurusi hilirasi pemanfaatan batu bara.

"Untuk memenuhi kebutuhan nasional nggak perlu menambah produksi, cukup mengurangi ekspor. Nah Kami mendorong pemerintah membuat direktorat hilir batu bara agar ada yang fokus mengurus pemanfaatan batu bara di sektor retail, rumah tangga dan industri kecil," pungkasnya.

(dna/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads