"Pak Jokowi minta pemakaian batu bara dalam negeri 60% dari produksi, sekarang 25% dari produksi. Target tahun ini 90 juta ton baru tercapai 55 juta ton sampai Oktober. Penyerapan juga nggak begitu besar," kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara R Sukhyar dalam acara coffee morning Dirjen Minerba di Kantor Ditjen Menerba Jakarta, Jumat (5/12/2014).
Peningkatan konsumsi batu bara domestik, diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri nasional dengan sumber energi alternatif yang lebih murah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perhitungan saya, 1 Kg elpiji yang di masyarakat harganya Rp 6.000. Dengan briket (produk olahan batubara) harganya bisa cuma jadi Rp 3.000. Nah, pemerintah sudah tidak perlu lagi mensubsidi, tapi masyarakat dapat sumber bahan bakarnya murah," kata Budi di tempat yang sama.
Pemanfaatan batu bara, selain bisa menutup tingginya konsumsi bahan bakar rumah tangga yang masih didominasi elpiji bersubsidi yang mencapai 5,7 juta ton/tahun. Sehingga pemerintah tidak perlu lagi menggelontorkan dana untuk subsidi elpiji yang di tahun 2014 tercatat mencapai Rp 55,1 triliun.
"Kebutuhan elpiji nasioanal kita masih 5,7 juta ton. Kalau itu diganti dengan batu bara separuhnya saja, energi yang dihasilkan malah jauh lebih besar. Bisa setara 7,5 juta ton epiji," pungkas Budi.
(dna/hen)











































