Pada 2005, 2008, dan 2013 saat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menaikkan harga BBM, tujuan utamanya adalah untuk menyelamatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika harga BBM tidak naik, maka subsidi BBM akan membengkak dan defisit APBN pun melebar.
"Sangat berbeda kenaikan harga BBM sekarang dengan 2013, 2008, dan 2005. Waktu itu, kita bicara selamatkan APBN akibat defisit," ujarnya dalam The CNBC Summit Indonesia 2014 di Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (9/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Situasi hari ini adalah untuk mengalihkan anggaran kepada yang produktif dan tepat sasaran," tegasnya.
Dalam APBN 2015, lanjut Bambang, awalnya subsidi BBM ditetapkan sekitar Rp 270 triliun. Namun dengan kenaikan harga BBM bulan lalu, subsidi BBM akan berkurang Rp 120 triliun.
"Jadi saving dari kenaikan ini adalah Rp 120 triliun," ujarnya.
(mkl/hds)










































