Tak Hanya Impor, Mafia Migas Juga 'Bermain' di Bidang Ini

Tak Hanya Impor, Mafia Migas Juga 'Bermain' di Bidang Ini

- detikFinance
Rabu, 10 Des 2014 14:06 WIB
Tak Hanya Impor, Mafia Migas Juga Bermain di Bidang Ini
Jakarta - Bidang usaha impor minyak saat ini menjadi sorotan publik karena diduga banyak terdapat mafia migas. Namun, praktik mafia migas tidak melulu di bidang impor.

"Tidak hanya impor minyak yang diduga sebagai mainan mafia, mereka ini ada juga di distribusi BBM (Bahan Bakar Minyak) bersubsidi," ujar Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas Djoko Siswanto ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (10/12/2014).

Djoko mengatakan, komponen BBM subsidi ada dua yaitu harga dan volume. Di sisi harga, mafia bermain terkait impor BBM. Sementara volume ada di distribusi BBM bersubsidi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hingga saat ini, Pertamina selalu melaporkan titik serah BBM subsidi hanya sampai di depot BBM. Bukan di titik serah terakhir BBM subsidi yakni di nozel SPBU," kata Djoko.

Djoko menegaskan, selama ini sering ada permainan ketika mobil truk BBM dari depot tidak ke SPBU tapi lari ke tempat lain. Misalnya industri.

"Bayangkan saja. Satu mobil truk BBM isinya 10 KL (kiloliter) dia jual ke industri untung Rp 1.000/ liter saja sudah 10 juta. Sekarang disparitas harga antara solar subsidi dengan solar non subsidi itu Rp 5.000, jadi lebih bisa Rp 50 juta di 1 truk," ungkapnya.

Padahal, lanjut Djoko, sudah ada Peraturan Presiden No 15/2012, di mana titik serah BBM subsidi ada di nozel SPBU. Namun oleh Pertamina tidak pernah dilakukan sehingga datanya tidak ada.

"Badan usaha lain seperti AKR Corporindo dan Surya Parna Niaga sudah melakukan, datanya lengkap. Tapi mereka tidak pernah ada data konsumsi rill di SPBU, hanya ada di depot BBM," tuturnya.

Jadi, kata Djoko, walaupun pemerintah nantinya memperbaiki sistem impor BBM dan mematok besaran subsidi BBM, praktik mafia masih bisa bermain melalui volume dari distribusi.

"Semakin jebol kuota BBM subsidi, mereka justru senang. Tapi kenapa jebol dan kita minta tunjukkan data rill konsumsi BBM subsidi masyarakat di SPBU mereka tidak punya. Ini harus segera dituntaskan. Semoga direksi Pertamina yang baru bisa memperbaiki masalah ini," paparnya.

(rrd/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads