"Proyek-proyek hulu masih berjalan sesuai jadwal, tidak ada yang tertunda akibat anjloknya harga minyak saat ini," ujar Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Johanes Widjonarko, ditemui di sela diskusi Perbaikan Iklim Investasi di Sektor Hulu Migas, di Hotel Four Seasons, Rasuna Said, Jakarta, Kamis (11/12/2014).
Johanes mengakui, turunnya harga minyak dunia saat ini membuat semua investor hulu migas melihat kembali proyek-proyek migas yang digarapnya saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan, seperti proyek dengan investasi sangat besar di laut dalam di Selat Makasar yang dilakukan Chevron Indonesia Deepwater Development (IDD), sampai saat ini terus berlanjut.
"Saat ini sedang kajian teknis terkait penambahan cadangan, IDD yang Gendalo Gehem dan Bangka tetap berjalan. SKK Migas juga merekomendasikan perpanjangan kontrak untuk Chevron agar proyek IDD mereka tetap ekonomis dikembangkan," ungkapnya.
Di tempat yang sama, Direktur Indonesia Petroleum Association (IPA) Lukman Mahfoedz mengungkapkan, diprediksi harga minyak terus turun mendekati US$ 50 per barel.
"Hal tersebut akan berdampak pada proyek investasi hulu di dunia mencapai US$ 150 miliar tertunda, karena proyek mereka hanya ekonomis (menguntungkan) jika minyak harganya US$ 70-80 per barel," kata Lukman.
"Jangka panjangnya tentu akan berimbas bagi Indonesia, karena Indonesia masih tergantung pada impor BBM, sehingga dikhawatirkan stok BBM di pasar tidak sebanyak sekarang," tutupnya.
(rrd/dnl)











































