"Risiko subservice di Indonesia itu sangat tinggi, karena kondisinya saat ini potensi minyak banyaknya berada di daerah yang remote, salah satunya di Selat Makassar dan Papua," ujar Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Johanes Widjonarko ditemui di sela diskusi Perbaikan Iklim Investasi di Sektor Hulu Migas, Hotel Four Seasons, Rasuna Said, Jakarta, Kamis (11/12/2014).
Johanes mengatakan, cukup banyak perusahaan migas yang sudah gagal ketika mencari migas di Selat Makassar dan Papua, walau potensi di daerah tersebut cukup besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Johanes menambahkan, sistem bagi hasil (PSC) antara negara dengan perusahaan migas merupakan salah satu pilihan terbaik, untuk mengundang investor berinvestasi di hulu migas di Indonesia.
"Dalam PSC mengenal atau melekat yang namanya cost recovery. Karena jika risiko hulu migas tinggi seperti di Indonesia, maka dengan adanya PSC sangat baik, kalau risikonya rendah mungkj pilihan sistem royalti lebih baik. Tapi tidak ada keharusan kalau risiko tinggi tidak boleh pakai sistem royalti and tax (pajak), itu tinggal pilihan saja, dihitung plus minusnya nanti diuji oleh investor," tutupnya.
(rrd/dnl)











































