Harga solar di Indonesia bahkan lebih tinggi daripada di Malaysia dan Singapura. Akibatnya operator kapal lebih memilih mengisi BBM di negeri tetangga saat belayar dari atau menuju Indonesia.
"Seperti diketahui, harga minyak kita lebih tinggi dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Yang terjadi adalah kapal keluar di Indonesia, dia ngisi banyak di sana (Singapura dan Malaysia) karena murah," kata Wakil Ketua Umum INSA Lolok Sudjatmiko saat diskusi di kantor INSA di Jakarta Pusat, Selasa (16/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang terjadi, keluar di Indonesia bisa ngisi banyak dan murah. Ngisi banyak dikasih. Kita di dalam negeri, beli dengan harga pasar tapi susah dapatnya. Misal pelayaran Jakarta-Surabaya-Makasar dikasih jatah hanya Jakarta-Surabaya. Baru isi lagi Surabaya-Makasar. Itu menggangu perjalanan. Artinya masih ada birokrasi dalam pengisian BBM," jelas Lolok.
Tingginya harga BBM sudah sering disuarakan oleh INSA kepada pemerintah dan Pertamina namun tak kunjung memperoleh tanggapan. Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto menyebut lebih mahalnya harga solar yang dijual kepada operator kapal di Idonesia karena adanya pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10%.
"Harga BBM di Indonesia sangat mahal dibandingkan di luar negeri karena struktur harga yang banyak. Salah satunya ada PPN 10%," ujar Carmelita.
Struktur harga BBM untuk kapal di Indonesia, menurut Carmelita, terdiri dari harga patokan minyak di Singapura (Means of Platts Singapore/MoPS) ditambah PPN sebesar 10%. Tidak hanya itu, ada iuran migas sampai tambahan tarif Pertamina (delta).
"Bandingkan dengan kelaziman dunia seperti Singapura dan Malaysia yang terdiri dari MOPS ditambah biaya handling," tegasnya.
(feb/hds)











































