Namun, pemerintah dalam menghitung subsidi menggunakan harga minyak rata-rata dari awal tahun sampai sekarang.
"Ya kalau sekarang dolarnya Rp 12.500 lebih, minyaknya US$ 59 per barel, ya sama harganya antara premium subsidi dengan non subsidi, impas," jelas Direktur Pertamina Ahmad Bambang di kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (17/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opsi utama yang muncul adalah subsidi tetap (fix subsidy). Jadi subsidi untuk tiap liter premium atau solar ditetapkan sama. Sehingga harga bensin subsidi naik-turun seperti pertamax.
Belum dipastikan opsi mana yang akan dipilih. Namun Menko Perekonomian Sofyan Djalil pernah mengatakan, sebelum akhir tahun akan diumumkan opsi yang bakal dipilih pemerintah.
(rrd/dnl)











































