"Melimpah sumber daya alam gas dan minyak, tetapi listriknya hidup-mati, byar pet semua," kata Jokowi saat pidato di depan para bupati, wali kota, dan gubernur di acara Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (18/12/2014).
Menurut Jokowi hal ini terjadi karena ada kebijakan publik yang tak benar dan tak tepat misalnya soal perizinan yang lama, pemebebasan lahan yang sulit. "Hari ini kita berkumpul ingin menyelesaikan masalah di lapangan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Problem dasar kalau tak diselesaikan, kalau tak diselesaikan sampai kapan pun tak selesai," katanya.
Untuk menyelesaikan soal krisis listrik di daerah, Jokowi akan membangun pembangkit listrik hingga 35.000 MW. "Ini bukan target ambisius, setelah kita muter-muter setiap provinsi sudah siap semua, telah dihitung hampir 35.000 MW," katanya.
Dalam kesempatan itu, Jokowi menyampaikan soal program Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang targetnya bisa berjalan Januari tahun depan. Dengan PTSP, proses perizinan akan lebih singkat tak perlu memproses di berbagai kementerian.
"Akhir Januari saya kejar terus program PTSP tak mundur lagi, jadi urus investasi bisa diselesaikan dalam satu tempat," katanya.
Selain pembangkit listrik, di bidang energi Jokowi menyampaikan soal rencana pemerintahannya membangun kilang baru untuk mendukung ketahanan energi.
"Kita selesaikan secepatnya, bangun kilang kita butuhkan 3 tahun. Ini akan kita mulai sehingga ketahanan energi kita betul-betul bisa kita pegang," katanya.
Jokowi juga menyampaikan soal program konversi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) ke gas. Program ini harus didukung dengan infrastruktur pipa-pipa gas untuk menyalurkan gas.
"Tahun depan pemipaan besar akan dimulai baik oleh BUMN maupun kementerian. Gubernur, bupati, wali kota mohon dibantu untuk pembebasan lahan," pinta Jokowi.
(hen/hds)










































