"Kita mendapatkan pinjaman untuk capex (capital expenditure/belanja modal) dari 4 bank dalam negeri dengan tenor selama 10 tahun total Rp 6,5 triliun, terdiri dari BNI Rp 2,5 triliun, BRI Rp 2 triliun, BCA Rp 1 triliun dan BII Rp 1 triliun," ungkap Direktur Utama PLN Nur Pamudji, usai penandatangananperjanjian pinjaman di Kantor PLN Pusat, Kamis (18/12/2014).
Nur mengatakan, satu hari sebelumnya, BRI sudah memberikan pinjaman melalui fasilitas pinjaman bilateral untuk pengembangan sektor kelistrikan senilai Rp 2 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nur menambahkan, dana pinjaman tersebut akan digunakan untuk mendanai proyek-proyek investasi PLN.
"Kita tidak spesifik bahwa dana dari sindikasi ini untuk proyek tertentu. PLN itu proyeknya banyak, jadi manakala proyek itu membutuhkan pendanaan kita langsung tarik untuk dibayarkan ke proyek tersebut. Dana ini untuk semua proyek yang didanai menggunakan dana internal dan dana pinjaman yang dijalankan menggunakan anggaran PLN," jelas Nur.
Ia menambahkan lagi, PLN sangat memerlukan banyak pendanaan, karena kebutuhan listrik nasional meningkat rata-rata 8% per tahun.
"Kebutuhan listrik kita kan terus meningkat, untuk mengejar kebutuhan listrik tersebut PLN memerlukan banyak dana untuk membangun pembangkit listrik, jaringan transmisi sampai jaringan distribusi ke berbagai daerah. Sumber dana untuk membiayai program investasi tersebut antara lain dari kas internal, APBN, penerusan pinjaman dari Pemerintah dan pinjaman PLN," katanya.
Ditempat yang sama, Direktur Bisnis Banking BNI, Krishna R. Suparto, menunjukkan bahwa industri kelistrikan merupakan infrastruktur yang sangat strategis.
"Kita lihat ini sesuatu yang sangat feasible dan sangat penting untuk kita dukung. Dan sejauh ini, khususnya PLN, kita lihat kinerjanya baik sekali. Walaupun banyak sekali tantangan-tantangan, sejauh ini rating kreditnya PLN sangat baik. Kinerja keuangannya juga baik," jelas Krishna.
Â
"Dengan ditandatanganinya kedua fasilitas pinjaman ini menunjukkan, BUMN seperti PLN mendukung pemerintah untuk mengurangi pinjaman valuta asing agar dapat berkurang risikonya akibat depresiasi rupiah yang mungkin terjadi di masa yang akan datang, dengan melakukan pinjaman rupiah," tutup Krishna.Â
(rrd/ang)











































