PLN Bidik Untung Hingga Rp 11 Triliun di Akhir 2014

PLN Bidik Untung Hingga Rp 11 Triliun di Akhir 2014

- detikFinance
Senin, 22 Des 2014 15:46 WIB
PLN Bidik Untung Hingga Rp 11 Triliun di Akhir 2014
Jakarta - PT PLN (Persero) membidik laba sebesar Rp 7 triliun hingga Rp 11 triliun di akhir 2014. Padahal tahun 2013 lalu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) listrik ini mencatat rugi Rp 30 triliun.

Direktur Konstruksi Dan Energi Baru Terbarukan PLN, Nasri Sebayang, mengatakan tahun lalu PLN masih mengalami rugi selisih kurs sehingga membukukan kinerja yang kurang baik.

"Tahun lalu kita negatif, minus. Sekarang untung, bisa naik 100%. Tahun lalu itu karena rugi kurs," katanya di kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tahun ini bagus, antara Rp 7-11 triliun laba," tambahnya.

Tahun lalu rugi selisih kurs yang diderita PLN akibat nilai tukar rupiah yang anjlok terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yaitu dari kisaran Rp 9.500 menjadi di atas Rp 11.000. Akhir tahun ini juga rupiah kembali anjlok dan dolar AS nyaris tembus Rp 13.000.

Nasri mengatakan, PLN sudah bisa mengakali lonjakan nilai tukar dolar AS itu dengan cara efisiensi. Sehingga rugi selisih kurs Perseroan bisa dikurangi.

"Efisiensi. Banyak proyek kita yang sudah jadi dan bisa menghasilkan. BBM dikurangi jadi makin baik posisinya," katanya.

Ia menambahkan, kinerja yang baik ini juga tidak akan berhenti di 2014. Nasri memprediksi PLN masih akan meraup laba lebih tinggi lagi di 2015.

"Kira-kira di atas Rp 13 triliun," ucapnya.

Nilai tukar rupiah punya peran penting dalam kinerja PLN. Semakin rendah dolar AS maka semakin baik bagi PLN. Pasalnya, pemasukan PLN dalam bentuk rupiah sementara utang-utangnya mayoritas dalam bentuk dolar AS.

Laba/Rugi PLN sejak enam tahun terakhir:

  • Tahun 2008 rugi Rp 12,3 triliun
  • Tahun 2009 laba Rp 14,6 triliun
  • Tahun 2010 laba Rp 10,3 triliun
  • Tahun 2011 laba Rp 5,4 triliun
  • Tahun 2012 laba Rp 3,2 triliun
  • Tahun 2013 rugi Rp 30,9 triliun
(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads