Harga Minyak Dunia Turun, Faisal Basri: Momen Bagus Hilangkan Premium

- detikFinance
Sabtu, 27 Des 2014 14:28 WIB
Jakarta - Harga minyak mentah dunia saat ini berada masih dalam tren melemah. Akibatnya, selisih harga keekonomian bensin Ron 88 dengan bensin non subsidi seperti Pertamax 92 sudah tipis.

Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri menyebut momentum melemahnya harga minyak dunia, tipe brent hingga texas, bisa dipakai menghapus dan mengganti bensin jenis Ron 88 menjadi bensin jenis Ron 92. Disamping selisih harga rendah, selama ini bensin Ron 88 merupakan produk minyak Ron 92 yang diturunkan kualitasnya.

"Sekarang harga minyak dunia sedang turun. Harga minyak mentah US$ 55,45 per barel. Ini momen bagus untuk hilangkan premium. Karena rakyat dengan harga sama (selisih harga antara Ron 92 dan Ron 88 tidak besar) bisa dapat dapat bensin lebih baik," kata Faisal saat diskusi di Waroeng Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (27/12/2014).

Dengan harga minyak dunia saat ini, pemerintah memperoleh keuntungan. Harga keekonomian premium, kata Faisal, berkisar pada harga Rp 5.100 per liter.

"Ongkos crude minyak mentah hasilkan BBM Rp 4.716. Itu hasilkan BBM. Ditambah ongkos lain jatuhnya bisa Rp 5.100," jelasnya.

Ke depan, Faisal berpadangan sebaiknya subsidi BBM memakai skema subsidi tetap atau fix. Hal ini bisa membantu pemerintah di dalam mengerem bocornya alokasi anggaran subsidi di APBN jika harga minyak dunia kembali melonjak.

"Bisa pakai subsidi tetap misal Rp 500. Ada batas bawah atas dan atas. Sekarang biang keok. Subsidi nggak tetap. Itu bisa mengubah APBN. Macam-macam pakai persen. Itu memperparah," ujarnya.

(feb/ang)