Faisal Basri Cs Dianggap Banyak Bicara, Sudirman Said: Masih On Track

Faisal Basri Cs Dianggap Banyak Bicara, Sudirman Said: Masih On Track

- detikFinance
Senin, 29 Des 2014 14:07 WIB
Faisal Basri Cs Dianggap Banyak Bicara, Sudirman Said: Masih On Track
Sudirman Said, Menteri ESDM
Jakarta -

Sejumlah pihak menilai apa yang dilakukan Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi yang dipimpin Faisal Basri tidak fokus dan terlalu banyak bicara. Namun menurut Menteri ESDM Sudirman Said, apa yang dilakukan oleh Faisal cs masih wajar.

"Banyak yang mengkritik Mas Faisal Basri dan teman-teman. Terlalu banyak bicara, tidak paham industri migas, segala macam. Tapi menurut saya, apa yang dilakukan Mas Faisal masih on track," tutur Sudirman kala berbincang dengan detikFinance di kediaman pribadinya di daerah Cilangkap, Jakarta, Minggu (28/12/2014).

Bahkan, lanjut Sudirman, tidak masalah jika tim ini sesekali agak menyerempet keluar jalur. Dia menilai, apa yang dilakukan Faisal dkk adalah fase awal dari reformasi struktural.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau perlu sekali-sekali tim independen ini off track, kita kan tidak boleh mengendalikan mereka. Apa yang dilakukan tim ini merupakan fase dekonstruksi dari fase reformasi dasar. Artinya menghancurkan praktik-praktik di sektor migas selama ini dilakukan," ucap Sudirman.

Menurutnya, apa yang dilakukan tim reformasi merupakan pelajaran bagi publik. Dari situ akan terlihat pihak-pihak yang mendukung reformasi di sektor migas dan mana yang menentangnya.

"Tentu hal ini akan membuat pemain lama yang sudah merasa di zona nyaman akan melawan dengan segala cara. Itu sudah saya hitung sejak awal," kata Sudirman.

Ia melanjutkan, terkait dengan salah satu rekomendasi tim yakni menghentikan impor RON 88 alias bensin Premium memang benar adanya. Selama masih ada RON 88, maka Indonesia hanya akan bergantung pada satu sistem pemasok Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Terhadap rekomendasi, secara prinsip yang dikatakan Mas Faisal Basri itu benar bahwa bergantung pada RON 88 itu bergantung pada satu sistem pemasokan. Di pasar dunia tidak dijual RON 88," ucapnya.

Menurut Sudirman, menghapuskan impor Premium akan berdampak positif. Baik bagi masyarakat maupun negara.

"Akan memberikan bahan bakar yang kualitasnya lebih baik kepada masyarakat. Juga akan menyehatkan pasar, karena kita akan punya pilihan dari supply (pemasok minyak dan BBM). Tinggal sekarang waktu kapan yang tepat diberlakukan," tuturnya.

(rrd/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads