"Hiswana Migas (Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi) menyurati saya. Mereka mengeluhkan bahwa selama ini margin jual BBM subsidi terlalu tipis," kata Menteri ESDM Sudirman Said kepada detikFinance, Minggu (28/12/2014).
Sudirman mengatakan, pengusaha SPBU khawatir apabila rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi dipakai pemerintah, di mana Premium dihapus dan digantikan dengan Pertamax.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Ketua Umum Hiswana Migas Eri Purnomohadi mengatakan, pengalihan BBM subsidi dari Premium ke Pertamax berimplikasi pada masalah stok atau distribusi Pertamax secara nasional.
"Kami tidak mempermasalahkan. Tapi yang perlu diingat saat ini, tidak semua daerah SPBU-nya jual Pertamax. Ada masalah distribusi dan hanya satu kilang yang bisa produksi Pertamax. Ini harus dipikirkan, jangan sampai jika itu dilakukan Pertamax di SPBU kosong," jelas Eri.
Menurutnya, diperlukan juga kejelasan fee (keuntungan) bagi pengusaha SPBU jika pertamax menjadi BBM subsidi. Fee per liter Premium dan Pertamax tentunya berbeda.
"Fee-nya kan beda, lebih besar Pertamax. Kami pengusaha semakin besar fee-nya semakin baik," ucapnya.
(rrd/hds)











































