Menebak Kebijakan Baru Jokowi Soal BBM, Pertamax Jadi Disubsidi?

Menebak Kebijakan Baru Jokowi Soal BBM, Pertamax Jadi Disubsidi?

- detikFinance
Selasa, 30 Des 2014 07:40 WIB
Menebak Kebijakan Baru Jokowi Soal BBM, Pertamax Jadi Disubsidi?
Jakarta - Menjelang tutup tahun 2014, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menelurkan kebijakan baru soal bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Kira-kira kebijakannya seperti apa?

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said sudah memberi beberapa bocoran mengenai kebijakan yang sudah dimatangkan kemarin ini.

Berikut ini rangkumannya seperti disusun detikFinance, Selasa (30/12/2014).

Pemerintah Tak Perlu Izin DPR

Pemerintah berencana menghapuskan subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium, sehingga nantinya mengikuti harga pasar atau keekonomian. Apakah kebijakan ini harus mendapat izin dari DPR?

Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, penghapusan subsidi untuk Premium sejatinya tidak memerlukan izin dari DPR. Namun pemerintah tetap akan mendiskusikannya dengan para wakil rakyat.

"Diskusi informal perlu. Tapi izin tidak," ujar Sudirman kala ditemui detikFinance di kediamannya, Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (28/12/2014).

Pertamax Bakal Gantikan Premium Jadi BBM Subsidi?

Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi merekomendasikan agar Bahan Bakar Minyak (BBM) RON 88 alias Premium dihapuskan. Nantinya, BBM RON 92 atau Pertamax yang akan diberi subsidi.

Sudirman Said, Menteri ESDM, menilai rekomendasi ini cukup bagus. Namun, sulit untuk menerapkannya dalam waktu dekat.

"Problemnya adalah, apakah Pertamina dalam waktu singkat bisa meng-convert dari produk RON 88 ke RON 92? Itu belum bisa segera. Ada yang bilang 3 bulan bisa, ada yang 5 bulan bisa," kata Sudirman kala ditemui detikFinance di kediaman pribadinya, Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (28/12/2014).

Sudirman mengatakan, secara teknis kapasitas terpasang kilang Pertamina totalnya adalah 1 juta barel/hari. Namun karena kilangnya sudah tua, akhirnya kurang efisien dan kapasitas pengolahannya saat ini hanya 80%.

"Jadi total hanya bisa mengolah 800.000 barel/hari. Apalagi kilang Pertamina hanya bisa memproduksi barang yang kualitasnya tertentu saja (terutama RON 88). Itu pun juga hanya mampu mengolah minyak jenis tertentu saja," katanya.

Jokowi-JK Tak Takut Popularitas Turun Karena Hapus Subsidi

"Pemerintahan ini, khususnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK), adalah orang-orang yang memiliki keberanian dalam mengambil keputusan sulit tapi penting bagi negara," tegas Sudirman ketika ditemui detikFinance di kediamannya, Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (28/12/2014).

Sudirman mengatakan, keputusan tersebut penting bagi negara. Dampak positifnya akan dirasakan cukup lama, khususnya bagi keuangan negara dan kesejahteraan rakyat.

Dengan menghapuskan subsidi Premium, pemerintah bisa menghemat anggaran sampai ratusan triliun rupiah. Anggaran ini bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.

"Ini sulit, tapi begitu diambil dampaknya akan panjang. Kehebohan tiap tahun ketika menyesuaikan harga BBM bisa dikurangi, karena kita hanya mengurus satu subsidi yaitu Solar," sebut Sudirman.

Sudirman menegaskan, pemerintah sudah berhitung soal dampak politik dan popularitas atas kebijakan tersebut. Namun, bagaimana pun pengambilan kebijakan harus berdasarkan pertimbangan kepentingan negara, bukan popularitas.

"Kalau pemerintah pikirnya politik semata-mata atau populer, pastinya mikir dulu baru keluarkan kebijakan," ujar Sudirman.

Bocoran Harga Premium Baru

Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan pemerintah tengah mematangkan kebijakan baru terkait subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Dia mengungkapkan, mulai 1 Januari 2015 masyarakat akan membeli BBM dengan harga yang baru.

Hal itu diungkapkan Sofyan kala ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (29/12/2014). Namun, Sofyan belum bisa menyebutkan lebih jauh kebijakan yang tengah dimatangkan pemerintah.

"Saya nggak bisa, besok kita baru akan rapat lagi melihat harga keekonomian hari ini. Intinya, semoga kebijakan ini adalah yang permanen. Nanti akan diputuskan dan diumumkan sebelum Tahun Baru," tuturnya.

Namun, Sofyan menggarisbawahi bahwa harga BBM bersubsidi akan berubah. Sejak 18 November lalu, pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 2.000/liter. Harga Premium menjadi Rp 8.500/liter, dan Solar Rp 7.500/liter.

"Pada saat Tahun Baru, masyarakat akan membeli BBM dengan harga baru. Per 1 Januari 2015," ungkapnya.
Halaman 2 dari 5
(rrd/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads