Faisal Basri Cs Minta Pertamax Disubsidi, Pemerintah Pilih Cabut Subsidi Premium

Faisal Basri Cs Minta Pertamax Disubsidi, Pemerintah Pilih Cabut Subsidi Premium

- detikFinance
Selasa, 30 Des 2014 11:30 WIB
Faisal Basri Cs Minta Pertamax Disubsidi, Pemerintah Pilih Cabut Subsidi Premium
Jakarta - Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi yang dipimpin Faisal Basri merekomendasikan agar pemerintah menghapus Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis RON 88 alias Premium. Subsidi untuk Premium kemudian dialihkan ke BBM RON 92 atau Pertamax sebesar Rp 500/liter.

"Kami memang merekomendasikan agar pemerintah menghapus Premium lalu memberi subsidi tetap RON 92 sebesar Rp 500/liter. Itu usulan," kata Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas Djoko Siswanto kepada detikFinance, Selasa (30/12/2014).

Tapi, kata Djoko, pemerintah sepertinya lebih memilih mencabut subsidi Premium dan menerapkan subsidi tetap (fixed subsidy) per liter untuk BBM diesel atau Solar. Dia menilai langkah ini lebih berani dibandingkan rekomendasi tim.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau pilihannya justru berani mencabut subsidi Premium, itu jauh lebih baik. Tentunya sangat bagus," kata Djoko.

Terkait rekomendasi penghapusan Premium dan pengalihan ke Pertamax, Menteri ESDM Sudirman Said menilai rekomendasi ini cukup bagus. Namun, sulit untuk menerapkannya dalam waktu dekat.

"Problemnya adalah, apakah Pertamina dalam waktu singkat bisa meng-convert dari produk RON 88 ke RON 92? Itu belum bisa segera. Ada yang bilang 3 bulan bisa, ada yang 5 bulan bisa," kata Sudirman kala ditemui detikFinance di kediaman pribadinya, Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (28/12/2014).

Sudirman mengatakan, secara teknis kapasitas terpasang kilang Pertamina totalnya adalah 1 juta barel/hari. Namun karena kilangnya sudah tua, akhirnya kurang efisien dan kapasitas pengolahannya saat ini hanya 80%.

"Jadi total hanya bisa mengolah 800.000 barel/hari. Apalagi kilang Pertamina hanya bisa memproduksi barang yang kualitasnya tertentu saja (terutama RON 88). Itu pun juga hanya mampu mengolah minyak jenis tertentu saja," katanya.

Sehingga, kata Sudirman, yang harus dilakukan Pertamina dan seluruh stakeholders di sektor migas dalam jangka pendek adalah meningkatkan kapasitas bunker atau tangki penyimpanan BBM.

"Kapasitas storage dalam jangka pendek, 1-2 tahun ini, harus ditingkatkan dari 18 hari menjadi minimal 30 hari. Sedangkan jangka menengahnya yang saat ini dilakukan Pertamina adalah modernisasi kilang minyak tua (upgrading), sehingga kemampuan kilang meningkat. Bisa memproduksi produk yang lebih tinggi, RON 92 misalnya," jelas Sudirman.

Dalam jangka panjang, demikian Sudirman, pembangunan kilang adalah hal yang wajib. "Jangka panjang harus dibangun 2 kilang minyak dengan kapasitas masing-masing 300.000 barel/hari," ucapnya.

(rrd/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads