Faisal Basri Cerita Sejarah Petral, yang Jadi Alat Kepentingan Kroni Orde Baru

Faisal Basri Cerita Sejarah Petral, yang Jadi Alat Kepentingan Kroni Orde Baru

- detikFinance
Selasa, 30 Des 2014 19:23 WIB
Faisal Basri Cerita Sejarah Petral, yang Jadi Alat Kepentingan Kroni Orde Baru
Faisal Basri, Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas
Jakarta -

Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi telah mengeluarkan 5 rekomendasi terkait keberadaan anak usaha PT Pertamina (Persero), Pertamina Energy Trading Ltd (Petral). Bagaimana sejarah dibentuknya perusahaan tersebut?

Ketua tim Faisal Basri mengungkapkan, dulu Petral bernama Petra Group yang didirikan pada 1969 oleh Pertamina dan 'interst group' di Amerika Serikat (AS). Petra kala itu memiliki 2 anak perusahaan, yakni Petra Oil Marketing Corporation Ltd yang merupakan perusahaan Bahama berkantor di Hong Kong, dan Petra Oil Marketing Corp yang berbasis di California (AS).

"Pada 1978, perusahaan yang berbasis di Bahama digantikan dengan perusahaan yang berbasis di Hong Kong," katanya di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (30/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada 1992, lanjut Faisal, Petra Group mendirikan anak perusahaan berbadan hukum dan berkedudukan di Singapura yaitu Pertamina Energy Services Pte Limited/PES. Tugasnya adalah melakukan perdagangan minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia.

"Pada September 1998, seluruh saham Petra Group diambil alih Pertamina," kata Faisal.

Kemudian, tambah Faisal, pada Maret 2001 Petra Group berubah nama menjadi Pertamina Energy Trading Limited (Petral) yang berperan sebagai trading and marketing arm Pertamina di pasar internasional. Sementara sejak dibentuk Petra Group, operasional perusahaan tersebut bertujuan awalnya untuk pemasaran minyak mentah Indonesia.

Pada waktu itu, Indonesia masih menjadi negara eksportir minyak bumi. Peran minyak sangat dominan, baik sebagai sumber devisa maupun penerimaan negara dalam APBN.

"Saat itu produksi minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel/hari. Sementara kebutuhan dalam negeri hanya 400.000 barel/hari," katanya.

Namun pada perkembangannya, perusahaan ini hanya mengakomodasikan kepentingan elit penguasa Orde Baru untuk mendapatkan rente dari ekspor minyak bumi.

"Petra Group praktis hanya sebagai 'agen penjualan' minyak bumi Indonesia. Proses pemburuan rente terjadi melalui keikutsertaan kroni penguasa dalam kepemilikan Petra Group," ungkap Faisal.

Indonesia pun kemudian berubah dari negara eksportir menjadi importir minyak. Namun peran Petral belum berubah.

"Peran Petra Group (Petral) tak berubah walaupun status Indonesia berubah dari net eksportir menjadi net importir. Petral satu-satunya pihak yang ditunjuk sebagai penjual dan pembeli minyak mentah dan BBM. Volume usaha Petral semakin membesar sejalan dengan meningkatnya impor," jelas Faisal.

Bahkan, menurut Faisal, Petral hanya menjadi administrator tender, bukan trading company. Petral tidak melakukan transaksi ke pihak ketiga atau di Platts Window Market (Bursa Minyak Singapura). Petral tidak memiliki professional trader dan sepenuhnya menjadi price taker.

"Petral tidak berminat menjadi trading company sehingga tidak punya blending facilities dan blending specialists sendiri. Pelaksanaan fungsi sebagai market intelligence oleh Petral tidak dilakukan dengan baik. Siapa pemasok sebenarnya dari minyak yang dibeli Petral tidak dipandang sebagai kewajiban," paparnya.

(rrd/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads