Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, skema ini bertujuan agar PT Pertamina (Persero) tidak menerima beban terlalu berat. Baik ketika harga minyak dunia turun ataupun naik.
"Supaya kalau misalnya harganya turun, jangan terlalu banyak Pertamina mendapatkan untung. Kalau naik, jangan terlalu banyak juga beban Pertamina. Lebih cepat lebih baik," jelas Sofyan di kantornya, Jakarta, Jumat (9/1/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan ditetapkan 2 minggu, kalau harganya US$ 60 per barel ternyata mungkin Minggu ini sudah turun jadi US$ 50 per barel. Berarti kan kelebihannya keuntungan besar bagi Pertamina. Begitu kalau naik kan malah jadi beban," terangnya.
Akan lebih bagus, menurut Sofyan, bila harga BBM ditetapkan secara harian, seperti yang terjadi di pasar Internasional. Meski sulit untuk direalisasikan.
"Makin dekat kan makin baik. Kalau di pasar yang bagus, mereka harian kan," ujar Sofyan.
(mkl/dnl)











































