Faisal Basri Ingin Segera Tamatkan Riwayat Premium, Ini Kata Pertamina

Faisal Basri Ingin Segera Tamatkan Riwayat Premium, Ini Kata Pertamina

- detikFinance
Selasa, 13 Jan 2015 12:37 WIB
Faisal Basri Ingin Segera Tamatkan Riwayat Premium, Ini Kata Pertamina
Jakarta - Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi yang dipimpin Faisal Basri merekomendasikan agar Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium 'dilikuidasi' dan digantikan dengan yang lebih baik. Namun, ini ternyata bukan hal yang mudah.

"Butuh waktu, karena Pertamina sedang proses peremajaan kilang-kilang dalam negeri agar kapasitasnya bertambah dan dapat mengolah bahan bakar RON 92 ke atas lebih banyak," tutur Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang kala dihubungi detikFinance, Selasa (13/1/2015).

Bambang mengatakan, bila menuruti rekomendasi yang disampaikan Faisal Basri, maka Pertamina perlu mengoperasikan kilang TPPI, di Tuban, Jawa Timur. Pertamina sempat mengoperasikan kilang TPPI, namun mendapatkan peringatan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"KPK pernah wanti-wanti kita waktu operasikan kilang TPPI, karena ujungnya bisa melakukan tindakan korupsi. Direksi Pertamina tentunya tidak ada yang mau masuk penjara," tegas Bambang.

Selain soal korupsi, lanjut Bambang, secara kesehatan juga ada risiko. Untuk 'menamatkan riwayat' Premium dalam jangka pendek, harus mencampur MTBE (Methyl Tertiary Butyl Ether, C5H11O) ke Pertamax Off sehingga menjadi RON 92. Ini justru berbahaya karena mengancam kesehatan.

"Pernah dengar Premix? Dulu pernah ada bensin Premix. Ini campurannya MTBE. Ingat kenapa Premix dihentikan penjualannya? Karena berbahaya. Ada zat dari hasil pembakaran Premix menyerap ke kulit dan bisa menimbulkan kanker dan menimbulkan karat pada mesin. Ini MTBE mau dimunculkan lagi, apa nggak ingat kejadian dulu?" jelas Bambang.

Ia menegaskan, jika pemerintah memang benar-benar menginginkan agar tidak ada lagi Premium di Indonesia, pilihannya adalah mengimpor langsung BBM RON 92. Ini tentu butuh biaya yang tidak murah.

"Hampir 100% kita harus impor RON 92, kilang dalam negeri tidak beroperasi. Atau pilihan kedua, menunggu Pertamina menyelesaikan proyek-proyek peremajaan kilang, dalam 2 tahun bisa dimungkinkan. Setelah 2 tahun, beberapa proyek peremajaan kilang sudah selesai sebagian dan bisa beroperasi," jelasnya.

Sebelumnya, Faisal Basri sempat menyatakan pemerintah memang memberi waktu paling lama 2 tahun kepada Pertamina untuk menghapus Premium. Namun Faisal menegaskan pihaknya akan mendorong Pertamina agar lebih cepat.

"Dua tahun itu kan maksimal atau paling lama. Kita akan dorong dalam 6 bulan sudah tamat riwayat Premium RON 88 di Indonesia," kata Faisal.

Faisal mengatakan, ada cara untuk memproduksi Pertamax lebih banyak. Salah satunya dengan mencampur Pertamax Off dengan MTBE yang setara RON 118.

(rrd/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads