Nasib kilang milik Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) saat ini belum jelas. Padahal kilang ini vital, dan bisa menambah produksi bensin pertamax RON 92 di dalam negeri.
Namun karena terganjal peliknya masalah hukum dan kasus utang yang sangat besar, pemerintah ingin TPPI dipailitkan dan besi-besi kilangnya dijual.
"Haduh kondisinya rumit sekali, tadi rapat nggak ada hasilnya. Saya barangkali pilihannya mungkin harus kita pailitkan saja, lalu besi tua bisa dijual, nggak ada pilihan lain, siapa yang mau hidupkan lagi TPPI," ungkap Menko Perekonomian Sofyan Djalil, ditemui usai rapat soal TPPI di kantornya, Jakarta, Selasa (13/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertamina memang punya kompetensi, tapi masalahnya utang TPPI itu selangit. Maka pilihannya ya segera pailitkan saja. Saya kira juga nggak mungkin Pertamina mau akuisisi orang bebannya luar bisa berat," katanya.
Bahkan keinginan untuk segera pailitkan TPPI sudah ada dibenak Sofyan sejak 10 tahun lalu.
"Harusnya dari dulu dipailitkan, saya waktu jadi Menteri BUMN sudah ingin pailitkan TPPI tapi tertunda hingga sampai sekarang sudah 10 tahun lebih," tutupnya.
Dalam rapat tersebut, tidak disebutkan berapa jumlah utang dari TPPI dan siapa pemegang saham yang harus bertanggung jawab terhadap utang-utang tersebut.
(rrd/dnl)











































