"Harga elpiji 12 kg akan turun dalam waktu dekat, kemungkinan turunnya Rp 300 per kg atau Rp 3.600/tabung," ujar Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang dalam pesan singkatnya, Kamis (15/1/2015).
Salah satu alasan Pertamina menurunkan harga elpiji 12 kg, karena turunnya harga keekonomian elpiji. Sementara besaran harga penurunan Rp 300/kg tersebut merupakan keuntungan dari Pertamina menjual elpiji 12 kg, pasca kenaikan harga pada 2 Januari 2015, yang naik Rp 18.000/tabung menjadi Rp 134.700/tabung. Artinya, Pertamina hanya akan untung tipis jualan elpiji 12 kg.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Bambang mengungkapkan, Pertamina hanya untung Rp 336,75 per kg dalam penjualan elpiji 12 kg.
"Elpiji 12 kg kita hanya kecil kok, hanya Rp 336,75 per kg, kita hanya ambil margin 3,38% saja," ujarnya.
Bambang mengungkapkan, komponen penentuan harga elpiji 12 kg sangat banyak, ada sekitar 12 item lebih.
"Mulai dari harga dasar elpiji dari CP Aramco, ada alpha pengadaan, ada biaya shipping cost, margin pertamina, COGS, harga dasar eks pertamina, PPN 10%, harga jual ke agen, transport fee SPPBE, filling fee SPPBE, margin agen, dan lainnya. Kita hanya ambil untung itu tipis Rp 336,75 per kg," jelasnya.
Bambang menegaskan, walau Pertamina bisa saja mengambil untung besar, namun hal tersebut tidak dilakukan, karena masih melihat beban masyarakat.
"Lihat saja pesaing kita lainnya (Blue Gaz) berapa harganya? Jauh lebih mahal kan. Bandingkan juga harga elpiji di negara tetangga, bahkan di Asia sekalipun, harga kita tetap paling murah," ucapnya.
(rrd/dnl)











































