Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Syamsu Alam mengatakan, turunnya harga minyak dunia berdampak pada proyek hulu migas, karena biaya produksi minyak per barel lebih tinggi dari harga minyak di pasar. Tapi tentunya sebagai BUMN, Pertamina tidak boleh berhenti investasi di sektor hulu migas, justru produksinya harus ditingkatkan.
"Makanya dengan kondisi seperti ini kita jangan panik. Penurunan harga minyak ini justru bisa jadi peluang kita, di mana harga minyak turun, biaya yang lain pasti turun. Ini kesempatan kita meningkatkan investasi hulu minyak dari sekarang dan tentunya akan berdampak hasilnya pada 3-4 tahun ke depan," ujar Syamsu ditemui di acara Indonesia Outlook 2015, Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (15/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tidak boleh hanya mengandalkan produksi dalam negeri, karena peluang blok minyak di luar negeri juga sangat besar. Saat ini kita sudah punya blok migas di Aljazair dengan produksi 22.000 barel per hari, blok di Irak dengan produksi 40.000 barel per hari, dan di Serawak 15.000 barel per hari. Minyak-minyak ini kita bawa ke dalam negeri untuk diolah di kilang minyak kita," katanya.
Di tempat yang sama, Direktur Indonesia Petroleum Association (IPA) Sammy Hamzah mengakui, dengan kondisi turunnya harga minyak dunia, banyak proyek-proyek hulu migas yang ditunda.
"Industri hulu migas saat ini lebih banyak menunggu atau menunda proyek hulu migas, baik eksploitasi maupun eksplorasi blok migas. Karena banyak proyek hulu migas nilai keekonomiannya mencapai US$ 60 per barel, sementara saat ini harga minyak turun terus di bawah US$ 50 per barel," katanya.
Sammy menegaskan, jika operasi hulu migas tetap dilakukan, akan merugikan perusahaan migas.
(rrd/dnl)











































