Hari ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan harga bensin Premium turun dari Rp 7.600/liter menjadi Rp Rp 6.600/liter, sementara Solar turun dari Rp 7.250/liter menjadi Rp 6.400/liter. Harga baru ini berlaku mulai Senin (19/1/2015) pukul 00.00.
Ketika harga minyak anjlok lebih dalam, bukan tidak mungkin harga BBM bisa turun lagi. Namun, Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan pemerintah sedang membahas kemungkinan harga BBM dipatok paling rendah Rp 6.500/liter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudirman menjelaskan, pemerintah tengah menggodok kemungkinan membatasi harga BBM di level harga tertentu. Dengan mekanisme ini, dia mengakui bisa saja pemerintah mendapat untung dari penjualan BBM.
"Kira-kira akan kita patok harga terendahnya Rp 6.500/liter. Jadi saat minyak dunia turun terus, harga BBM paling rendah Rp 6.500/liter. Di sini artinya pemerintah akan untung kan?" katanya.
Keuntungan tersebut, tambah Sudirman, akan digunakan untuk membangun fasilitas penyimpanan BBM. Saat ini, cadangan Indonesia hanya cukup untuk sekitar 18-20 hari dan Sudirman ingin agar bisa ditambah menjadi minimal 30 hari.
"Misalnya nanti harga turun di bawah Rp 6.500, ya selisihnya disimpan saja, jadikan tabungan. Ini bukan berarti masyarakat mensubsidi negara. Masyarakat mensubsidi diri sendiri, karena itu disimpan untuk keamanan energi secara keseluruhan. Pemerintah jadi penyelanggara, yang penting uang masyarakat kita laporkan dari waktu ke waktu," jelas Sudirman.
"Jangka pendek uang itu untuk menambah stok BBM, kita mesti mencapai minimal 30 hari. Kan ada 2 unsur, infrastruktur harus dibangun dan jumlah BBM-nya. Pertamina mengatakan untuk sementara mereka akan mencari tangki-tangki BBM milik BUMN yang tidak dipakai. Untuk menambah stok BBM 1 hari saja diperlukan biaya Rp 1,2 triliun," tambahnya.
(rrd/hds)











































