Seorang petugas SPBU di Galur, Jalan Letjen Soeprapto Jakarta Pusat, Supardi menceritakan bahwa warga atau pengendara motor sempat memprotes SPBU. Menurutnya banyak pengendara sempat beranggapan penurunan harga premium dan solar sudah terjadi sejak Sabtu dini hari (17/1/2015).
Kemarin, banyak warga yang mendatangi SPBU di Rawamangun, Jakarta Timur untuk rama-ramai mengisi bensin karena dianggap harga BBM
sudah turun. Ia mengatakan SPBU yang dimaksud masih dalam satu manajemen pengawasan di SPBU tempatnya bekerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Supardi mengakui meski Presiden Jokowi telah mengumumkan harga BBM turun akan pada Jumat lalu, namun hingga kini SPBU-nya belum mendapat pemberitahuan resmi dari PT Pertamina.
"Belum dapat kabar. Dari Pertamina belum ngumumin, mungkin nanti malam," kata Supardi (47).
Mulai Senin (19/1/2015) pukul 00.00, pemerintah akan menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan solar masing-masing Rp 6.600 dari sebelumnya Rp 7.600 per liter dan Rp 6.400 dari sebelumnya Rp 7.250 per liter.
Ia mengatakan adanya jeda turunnya harga BBM dengan pengumuman selama 2 hari agar para SPBU bisa menjual stok BBM mereka yang dibeli dengan harga lama. Namun apabila sampai adanya penurunan harga, masih ada stok yang tersedia maka dimungkinkan pengusaha SPBU bisa mendapat kompensasi.
"Pertamina mau mengembalikan sisa persediaan. Pengembalian berupa uang. Kalau harga turun, Pertamina ganti uang ke kita, kalau harga naik kita yang tombok, bayar selisihnya ke Pertamina. Sekarang kita ada stok 35 ton," kata Supardi.
Menurut Supardi di SPBU-nya biasa menyediakan BBM sebanyak 14-15 ton per hari untuk jenis premium. Sementara untuk solar konsumsinya masih minim hanya 1 ton per hari.
Ia mengaku, rencana penurunan harga BBM tidak berpengaruh terhadap konsumsi masyarakat, karena tidak ada penundaan konsumsi jelang penurunan harga BBM.
"Sama saja masih normal. Kan kebutuhan nggak bisa ditahan-tahan ya," ungkapnya.
(drk/hen)











































