Saat harga minyak jatuh pada 1986 silam, ratusan bank di negara bagian Texas, Amerika Serikat (AS), terpaksa tutup dan bangkrut karena negara bagian ini mengalami resesi akibat kejatuhan harga minyak. Seperti diketahui, perekonomian Texas sangat bergantung kepada minyak.
Peristiwa pada 1986 ini bisa kembali terjadi pada tahun ini. Karena harga minyak anjlok dari posisi tertingginya di Juni 2014 sekitar lebih US$ 100/barel menjadi di bawah US$ 50/barel pada awal tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kegiatan pengeboran minyak menguntungkan saat harga minyak di posisi US$ 100/barel. Namun dengan kondisi harga sekarang, bisnis minyak menjadi tidak ekonomis lagi karena ongkos produksi lebih mahal daripada harga jualnya. Akibatnya, sejumlah perusahaan energi menahan bahkan menghentikan kegiatan produksinya. Ini bisa mengancam pembayaran kredit ke perbankan.
Dilansir dari CNNMoney, Senin (19/1/2015), di sejumlah wilayah lain di AS, penurunan harga minyak menguntungkan karena masyarakat bisa membeli bensin dengan harga murah dan mengurangi pengeluaran.
Tapi untuk Texas, resesi ekonomi menghantui dan memicu PHK di mana-mana. Kondisi ini juga dialami oleh negara bagian kaya minyak di AS, seperti North Dakota, Oklahoma, dan Alaska.
Kerugian perbankan karena kondisi ini akan meningkat. Tidak hanya karena ancaman kredit macet dari perusahaan energi, penurunan harga minyak juga bisa membuat ekonomi di wilayah kaya minyak lesu. Ini bisa membuat permintaan kredit dari masyarakat menurun, sehingga bisnis bank ikut lesu.
"Bila Anda adalah bank kecil di Texas atau North Dakota, risiko bisnis meningkat," kata Analis Perbankan di Rafferty Capital Markets, Dick Bove.
"Tidak diragukan lagi, fakta kondisi energi saat ini menjadi isu besar buat perbankan, khususnya bank kecil," imbuh Bove.
Untuk bank-bank besar, eksposur kredit mereka tidak hanya di satu sektor saja, seperti energi. Jadi bagi bank-bank besar, risiko penurunan harga migas yang terjadi tidak akan besar.
(dnl/hds)











































